Lakon Wayang oleh Ki Damar*
“Pukulun, lihatlah! Bukankah itu plasenta Bungkus?” seru Batara Bayu kepada Narada.
Narada menoleh dan terperanjat. Plasenta Bratasena tampak dikerubungi binatang buas. Anehnya, tak satu pun hewan berhasil mengoyak secuil pun darinya.
Semakin kuat taring mereka mencabik, semakin cepat pula tubuh mereka ditarik masuk ke dalam plasenta itu.
Dalam sekejap, hewan-hewan liar tersebut diselimuti seperti bayi yang dibungkus kain.
Mereka meronta, mencoba keluar, namun hanya dalam hitungan detik tubuh mereka kaku dan lenyap tak berbekas.
Plasenta itu merayap, seolah hidup, menelan setiap makhluk yang ditemuinya. Batara Narada cemas melihat kekacauan itu.
“Bayu, bila plasenta tidak segera ditangani, hutan Mandalasara akan kehilangan semua penghuninya. Gunakan anginmu untuk menghentikannya!”
“Tapi pukulun,” jawab Bayu ragu, “jika aku terbangkan ke pemukiman, bisa jadi bencana besar.”
Narada berpikir cepat.
“Bawa ke tenggara! Dari sini dekat samudra. Di sana ia tidak akan bertahan lama. Air akan mengajarinya arti kehidupan, hingga ia jinak ketika kelak bertemu manusia yang menolongnya.”
Bayu mengangguk tegas. Dengan segenap kekuatan anginnya, ia mengangkat plasenta Bratasena yang liar itu, mencegah kehancuran tatanan hutan.
(*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani