Lakon Wayang oleh Ki Damar*
Plasenta itu terhempas ke samudra, terombang-ambing di antara gelombang. Setiap ikan yang mencoba mendekat justru ditelan bulat-bulat olehnya.
Bahkan ketika sebuah perahu nelayan singgah, plasenta itu melompat ke atas perahu dan melahap hasil tangkapan mereka.
Merasa ada keganjilan, para nelayan panik. Seorang di antaranya nekat melompat ke laut, berenang menuju pantai untuk menyelamatkan diri dari makhluk aneh tersebut.
Di tepi pantai, berdirilah seorang petapa berusia sekitar lima puluh tahun bersama istrinya yang masih muda.
Ia adalah Prabu Sempani, seorang raja dari Banakeling yang tengah bertapa demi mendapatkan keturunan.
Istrinya bernama Dewi Drata, setia mendampingi meski hatinya kerap digelayuti kegelisahan.
Bertahun-tahun, Prabu Sempani melakukan tirakat: berpuasa, bersedekah, bersemedi, dan tekun memanjatkan doa.
Semua jalan kebaikan ia tempuh, berharap kemurahan Tuhan mengaruniakan seorang anak. Namun hingga kini, kesabaran masih menjadi sahabatnya.
“Sinuwun,” lirih Dewi Drata sambil menunduk, “sampai kapan kita harus begini? Apakah Tuhan tak mendengar doa kita?”
Prabu Sempani menatap lembut istrinya.
“Yayi Ratu, jangan berkata demikian. Apakah kau ragu akan kuasa Tuhan? Segala yang kita nikmati sekarang adalah anugerah-Nya. Anak itu titipan, bukan hak. Maka kita harus terus memohon ridho-Nya. Dia Maha Pemurah, Dia takkan mengingkari janji-Nya. Selama kita berdoa dan berusaha, yakinlah kasih sayang Tuhan akan datang pada waktunya.”
(*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani