Gaya Hidup Hiburan Internasional Kab. Madiun Kota Madiun Magetan Nasional Ngawi Olahraga Pacitan Ponorogo

Lakon Wayang Jayadrata Puja 4, Kebijaksanaan Raja Banakeling

Ki Damar • Selasa, 16 September 2025 | 03:10 WIB
Ilustrasi tokoh wayang Jayadrata
Ilustrasi tokoh wayang Jayadrata

Lakon Wayang oleh Ki Damar*

“Namun kita ini sepasang suami istri yang selalu menjadi sorotan rakyat dan para punggawa. Aku takut mereka berprasangka buruk pada kita,” ucap Dewi Drata dengan wajah cemas.

Prabu Sempani tersenyum tenang.

“Yayi Ratu, semua orang berhak menilai kita seperti apa. Mereka boleh beranggapan apapun, tetapi kita tak boleh larut dalam omongan mereka. Hanya Tuhan yang pantas menilai kita.”

Mendengar itu, Dewi Drata memeluk suaminya. Kata-katanya selalu menyejukkan hati.

“Dan lagi, Yayi,” lanjut Prabu Sempani lembut, “kita tak boleh berprasangka buruk pada Tuhan. Segala keputusan-Nya sudah ditakar sesuai kemampuan kita. Adapun rakyat yang membicarakan kita, itu hal biasa. Seorang pemimpin memang selalu menjadi buah bibir masyarakatnya.”

“Apakah paduka tidak jengkel pada mereka? Kadang ucapan rakyat itu menyakitkan,” tanya sang permaisuri ragu.

“Kenapa aku harus benci pada rakyatku sendiri?” jawab Prabu Sempani.

“Mereka justru membuat kita kuat. Dengan kritik dan kata-kata mereka, kita belajar mengoreksi diri. Rakyat adalah cermin bagi pemimpinnya.”

“Itu bagi pemimpin yang bijak,” sang permaisuri menimpali, “tapi bagaimana jika pemimpin itu tak dewasa dalam berpikir?”

Prabu Sempani menghela napas.

“Menurutku, tidak ada pemimpin yang sama sekali tidak dewasa. Setiap pemimpin pasti melewati pendidikan dan pengalaman. Mereka memiliki kebijaksanaan masing-masing. Percayalah, Yayi.”

Percakapan hangat itu tiba-tiba terhenti ketika seorang nelayan berlari tergopoh-gopoh mendekat. Nafasnya tersengal saat berseru, “Ampun, Sinuwun! Tolonglah kami!”

Prabu Sempani menoleh penuh perhatian. “Ada apa, kisanak? Apa yang terjadi?”

(*/naz)

*Penulis Alumnus ISI Surakarta

Editor : Mizan Ahsani
#Lakon #wayang