Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Lakon Wayang Jayadrata Puja 5 Habis, Anugerah Tuhan di Tengah Badai

Ki Damar • Selasa, 16 September 2025 | 03:45 WIB
Ilustrasi tokoh wayang Jayadrata
Ilustrasi tokoh wayang Jayadrata

Lakon Wayang oleh Ki Damar*

“Pergilah dari sini, Sang Prabu!” teriak seorang nelayan dengan wajah pucat ketakutan.

“Ada makhluk aneh di perahuku. Ia melahap semua hasil tangkapanku. Lihatlah, perahu itu sebentar lagi menepi. Bila paduka tidak segera menyelamatkan diri, niscaya makhluk itu akan memakanmu juga!”

Nelayan itu pun berlari tunggang langgang meninggalkan tempat tersebut. Namun Prabu Sempani justru berdiri tegak, menunggu dengan tenang.

“Kenapa paduka malah menunggu, Sinuwun? Bukankah makhluk itu berbahaya?” tanya Dewi Drata cemas.

Prabu Sempani menatap istrinya dengan bijak.

“Seorang raja tidak boleh hanya percaya pada cerita. Itulah sebabnya mata diletakkan di depan telinga, agar kita lebih dahulu melihat kenyataan daripada sekadar mendengar omongan.”

Tak lama, perahu itu menepi. Dari dalamnya muncul sosok aneh brtups plasenta hidup yang mengerikan.

Dewi Drata berteriak ngeri, sementara Prabu Sempani segera menghunus busurnya dan melepaskan panah.

Namun, panah itu tak melukai sedikit pun. Makhluk itu tetap bergerak mendekat tanpa merasa kesakitan.

Menyadari panah tak berguna, Prabu Sempani menunduk dan berdoa khusyuk.

“Ya Tuhan, bila selama ini doaku tak Engkau kabulkan karena dosaku, maka kabulkanlah doa istriku. Selamatkan kami dari bahaya makhluk ini.”

Doa itu dijawab seketika. Langit mendadak gelap, hujan deras turun mencurah dari awan. Dalam derasnya hujan, Prabu Sempani mendengar bisikan gaib.

“Mintalah anak kepada Tuhan yang menurunkan hujan. Dia Sang Pencipta yang tak pernah ingkar janji. Berdoalah saat hujan, karena doa di bawah derasnya air langit lebih mustajab dan penuh berkah.”

Maka Prabu Sempani pun bersila, menengadahkan tangan dengan tulus, memohon dianugerahi seorang anak.

Keajaiban pun terjadi. Plasenta yang menakutkan itu berubah wujud menjadi seorang remaja laki-laki tampan, tubuhnya basah oleh hujan namun sorot matanya lembut. Hatinya luluh oleh doa penuh kesungguhan sang raja.

Prabu Sempani menahan haru. “Mulai hari ini engkau anakku, Ngger. Karena engkau lahir di tengah hujan lebat, engkau kuberi nama Raden Tirtanata, artinya ‘Raja dari Air’.”

Dewi Drata turut mengusap kepala pemuda itu dengan kasih sayang.

“Dan aku, ibumu, memberimu nama Raden Jayadrata. Jaya berarti kemenangan, Drata adalah namaku. Engkau telah memenangkan hati ibumu.”

Maka, Jayadrata pun dipeluk erat oleh kedua orang tuanya. Mereka membawanya pulang ke Negeri Banakeling, mengenalkan sang putra anugerah Tuhan kepada seluruh rakyat.

Sejak saat itu, doa panjang Prabu Sempani dan Dewi Drata akhirnya terjawab. Negeri mereka memiliki penerus, seorang satria muda titisan takdir.

(*/naz)

*Penulis Alumnus ISI Surakarta

Editor : Mizan Ahsani
#jayadrata #Dewi #Lakon #wayang #prabu