Cerpen Bangsa Lelembut oleh Deni Kurniawan*
SEJAK pindah rumah, bisikan-bisikan aneh mulai menghantui Sakat. Bisikan itu samar, seperti desiran angin yang membawa kata-kata tidak jelas.
Hari berganti pekan. Pekan jadi bulan. Bisikan aneh tak henti menghanuinya.
Bahkan, acap terdengar semakin jelas dan menuntut. Dia nyaris gila dengan apa yang dialami.
Rasa sesal tak jarang menjalari pikirannya. Seperti sore itu, saat dirinya duduk sendirian di teras belakang memandangi matahari tenggelam.
''Kalau saja aku percaya perkataan ibu, pasti semua tidak akan seperti ini,'' gumam Sakat.
Sakat memutuskan hidup sendiri meninggalkan orang tua. Dia memilih menjalani hari-hari di rumah warisan kakek di kawasan kaki Gunung Lawu.
Ayahnya, tak menghiraukannya. Keinginan Sakat dinilai sebagai langkah awal menuju kedewasaan.
Bahkan, menjadi bahan cerita utama bagi si ayah untuk pamer kepada kawan-kawannya.
Namun, berbeda dengan sang ibu. Pemuda 19 tahun ini tetap saja bocah di mata perempuan yang melahirkannya.
Sakat sempat dilarang pergi meninggalkan rumah. Sampai-sampai, sang ibu bilang bahwa ada bangsa lelembut yang menunggu rumah kakek.
Namun, jiwa muda yang sarat kengototan mengantarkannya ke kondisi seperti saat ini. Sebuah kehidupan di rumah mendiang kakek yang penuh misteri.
Sekarang, matahari benar-benar tenggelam. Gelap merayapi keseluruhan langit yang mampu diamati mata telanjang.
Sakat beranjak dari tempat duduknya. Pintu belakang ditutup. Derit pintu disusul gerak cepat tangan Sakat memutar pengunci kayu yang dipaku ke gawang pintu.
Sakat cepat-cepat melangkahkan kaki ke kamar tidur.
''Untuk malam ini, tolong jangan menyuruhku melakukan hal-hal di luar nalar,'' ucap Sakat sembari menyusupkan kepalanya ke dalam selimut.
Tempo hari, Sakat pernah mengecat kucing yang kebetulan masuk ke rumah yang ditinggali.
Itu setelah dia mendapat bisikan-bisikan misterius.
Pertama-tama kucing ditangkapnya. Dua pasang kaki diikat kuat-kuat, depan dengan depan dan belakang dengan belakang.
Lalu, kucing telon itu dimasukkan ke dalam bak mandi. Hewan piaraan itu meronta-ronta kemudian menggigil. Tubuh gemetar hebat.
Sakat menaruh kucing yang basah kuyup itu ke atas meja makan. Sorot mata kucing yang memelas tak dihiraukannya.
Sekaleng cat hitam diambil Sakat. Tutup lantaa dibuka. Telapak tangan dimasukkan pelan-pelan, mengepal lalu meremas-remas cairan kental dan legam itu.
Sakat kemudian mengelus kucing yang masih kedinginan itu dengan telapak tangan yang penuh cat.
Hal serupa dilakukan berkali-kali ulang. Hingga, warna kucing benar-benar berubah hitam.
Lantas, Sakat pergi begitu saja. Kucing yang menggigil dan hitam itu masih meringkuk dengan dua pasang kaki terikat.
Pagi harinya, Sakat terkejut menyadari telapak tangan belepotan penuh cat hitam.
Bingung apa yang terjadi semalam, dia mengecek kondisi rumah.
Sesampainya di dapur, matanya mendapati seekor kucing mati mengenaskan di atas meja makan. (*)
*Penulis cerpen Bangsa Lelembut redaktur Jawa Pos Radar Madiun
Editor : Deni Kurniawan