Lakon Wayang Begawan Tambrapeta oleh Ki Damar*
DI sebuah pertapaan hening di tengah hutan, hiduplah seorang pandita tua bernama Begawan Tambrapeta.
Ia tinggal bersama dua putrinya, Endang Soka dan Endang Perdapa. Keduanya dikenal sebagai gadis yang sangat cantik, namun kecantikan itu justru membuat sang ayah dilanda keraguan dan ketakutan.
Begawan Tambrapeta khawatir karena kedua anaknya diyakini termasuk dalam golongan sukerta, anak yang lahir dengan kondisi khusus yang dikhawatirkan tidak berumur panjang atau akan mengalami kesulitan hidup, termasuk dalam pernikahan.
Melihat raut wajah ayahnya yang murung, Endang Soka mendekat dan berkata,
"Bapa, mengapa terlihat sedih? Jika bapa bersedih, kami pun ikut merasakan. Di dunia ini, hanya bapa yang menjadi alasan kami hidup. Jika bapa terus bersedih, kami pun kehilangan semangat,''.
Mendengar itu, Endang Perdapa ikut mendekat, menggenggam tangan ayahnya dengan lembut.
"Bapa Panembahan, bahagialah. Jika ada beban yang membuatmu resah, ceritakanlah pada kami. Kami ingin membantu meringankan hatimu. Atau bapa merasa ragu karena kami hanya perempuan?".
Begawan Tambrapeta tak kuasa menahan haru. Ia memeluk kedua putrinya dengan mata berkaca-kaca.
"Tidak ada kebahagiaan yang lebih besar bagiku selain memeluk kalian berdua," ujar Begawan Tambrapeta.
"Namun, aku mendapat wangsit bahwa di antara kalian berdua terdapat sukerta kembang sepasang. Itu yang membuatku cemas."
Endang Perdapa mengangkat wajahnya, matanya penuh tanya.
"Sukerta itu apa, Bapa?"
Begawan Tambrapeta menarik napas panjang, bersiap menjelaskan tentang makna sukerta dan konsekuensinya bagi kehidupan putri-putrinya. (*/den)
*Penulis lakon wayang kulit Begawan Tambrapeta alumnus ISI Surakarta
Editor : Deni Kurniawan