Lakon wayang Begawan Tambrapeta oleh Ki Damar*
BEGAWAN Tambrapeta tidak bisa menyembunyikan air matanya. Ia resah setelah mendapat wangsit bahwa kedua putrinya, Endang Soka dan Endang Perdapa, mengandung sukerta kembang sepasang – tanda yang dipercaya membawa kesialan atau musibah.
“Bapa takut hidup kalian dipenuhi masalah dan penderitaan. Bapa yang sudah tua ini tak sanggup lagi melindungi kalian,” ucap Begawan Tambrapeta dengan lirih.
Kesedihan itu menular pada kedua putrinya. Endang Perdapa mencoba menguatkan hati ayahnya.
“Bapa jangan takut, kami sudah dewasa. Kehadiran bapa adalah semangat hidup kami. Selama bapa ada, kami mampu menjaga diri,” katanya.
Namun, Begawan Tambrapeta menggeleng. Ia tidak ingin hidup anak-anaknya hanya dihabiskan untuk mengurus dirinya.
“Kalian harus menikah agar garis keturunan kita berlanjut. Jangan sampai kalian menjadi perawan tua. Itu lebih menyedihkan bagiku daripada kematianku sendiri,” ujarnya.
Endang Perdapa pun bertanya, “Apakah dengan kami menikah bapa akan merasa bangga dan bahagia?”.
“Benar, nduk. Tapi sebelum mencari jodoh, aku akan meruwat kalian terlebih dahulu agar terbebas dari kesialan,” jawab sang begawan.
Namun Endang Soka menolak hal itu.
“Bapa, aku tidak percaya dengan ruwatan. Setiap manusia sudah memiliki takdirnya. Apes dan keberuntungan itu bagian dari hidup,” ujarnya tegas. (*/den)
*Penulis lakon wayang kulit Begawan Tambrapeta alumnus ISI Surakarta
Editor : Deni Kurniawan