Cerpen Bangsa Lelembut oleh Deni Kurniawan*
BISIKAN itu datang lagi. Kali ini jauh lebih jelas menerobos telinga.
“Tangkap Jalak Lawu, tangkap! Makanlah, makanlah, kau akan bebas”
Suara itu seperti menggema di dalam kepala. Sakat menutup telinga, tetapi suara itu tak mau hilang.
Napasnya memburu. Tubuhnya terasa dingin.
Sakat tak betah dengan bisikan yang terus menguing di kepalanya.
Dia lantas angkit dari dipan. Kakinya mengayun ringan, seolah ada yang mengarahkan.
Di luar, langit pekat. Sesekali sinar bulan menembus celah awan.
Dia mengambil senter dan celurit kecil peninggalan kakeknya.
Kakinya menapaki tanah becek kebun belakang, lalu merayap menuju tepi hutan.
Beberapa ekor burung terbang berhamburan ketika mendengar langkah Sakat.
Satu ekor jalak Lawu hinggap di ranting pohon tak seberapa tinggi. Matanya menatap tajam ke arah Sakat.
“Benar, itulah burungnya” bisikan tersebut kembali terdengar oleh Sakat.
Sakat mengayunkan celurit, burung itu terjerat dan jatuh.
Sakat mendekat, memungut tubuhnya yang masih mengepak lemah.
Mata Sakat kosong. Bibirnya bergetar.
Satwa endemik Gunung Lawu itu lantas dibawa pulang.
Di dapur, Sakat membuat perapian di tungku.
Sembari menanti kayu jadi bara, sakat meruncingi bambu lalu menusukkan ke Jalak Lawu.
Sejurus kemudian, bau bulu yang dibakar memenuhi ruangan.
“Makanlah, makanlah,” bisikan itu semakin mendesak.
Dia kemudian membersihkan daging jalak itu dengan tangan gemetar.
Bagian kepala Jalak Lawu jadi suapan terakhir. Keretak tempurung terdengar seiring gerak rahang Sakat mengunyah.
Ruangan mendadak hening. Suara jangkrik lenyap. Api tungku padam begitu saja.
Sakat merasakan tubuhnya ringan, tetapi kepalanya berdenyut hebat.
Hari sudah pagi. Warga yang melintas di sekitar rumah Sakat melihat pintu dapur terbuka.
Mereka menemukan Sakat duduk di lantai, wajahnya pucat, matanya kosong menatap dinding.
Di atas meja makan, tersisa bulu-bulu jalak yang gosong. Bau amis masih tercium menyengat.
“Dia sudah tidak seperti dulu. Bangsa lelembut sudah menandainya,'' ucap warga tersebut. (*)
*Penulis cerpen misteri Bangsa Lelembut redaktur Jawa Pos Radar Madiun
Editor : Deni Kurniawan