Lakon wayang Gandamana Timbul oleh Ki Damar*
SETELAH berhasil diselamatkan dari kubur hidup-hidup, Raden Gandamana dirawat oleh Begawan Landakseta. Perlahan kesadaran sang patih Astina kembali.
“Bangunlah, Raden Gandamana. Kerajaan Astina sedang membutuhkanmu!” ujar Begawan Landakseta.
Mendengar kabar bahwa Astina berada dalam bahaya, Gandamana segera bangkit, mengabaikan luka dan rasa sakitnya. “Aku harus kembali ke istana, menyelamatkan negeri,” tekadnya.
Namun, sang begawan menahan.
“Tunggu dulu, Raden. Kau harus memilih – jabatan atau ketenangan batinmu.”
“Mengapa aku harus memilih di antara keduanya?”
“Karena jika tidak, hatimu akan dipenuhi dengki dan dendam. Jika kau ingin tenang, ikhlaskan jabatan patihmu. Suman akan menggantikannya.”
Gandamana terkejut.
“Iblis laknat! Jadi semua ini ulah Suman? Dia yang menjebakku dan mengadu domba Astina dengan Pringgondani?”
Begawan Landakseta menenangkan, “Benar, tapi ingat, kau telah memilih ketenangan. Jika marah, hatimu akan dikotori dendam.”
Raden Widura yang hadir membenarkan, “Yang terpenting sekarang adalah menyelamatkan Astina. Sebagai satria, kewajibanmu adalah membela negeri.”
Dengan hati yang mulai tenang, Gandamana bersiap menuju Astina.
Di perjalanan, ia bertemu Prabu Temboko, raja Pringgondani.
“Maafkan keributan ini, Raden Widura dan Raden Gandamana. Aku tidak tahu anak-anakku melakukan semua ini,” ucap sang raja.
Raden Widura menjawab bijak, “Tidak apa-apa, Sang Prabu. Semua ini akibat kelicikan Suman. Justru kami yang minta maaf.” (*/den)
*Penulis lakon wayang kulit Gandamana Timbul alumnus ISI Surakarta
Editor : Deni Kurniawan