Cerpen SAKAT oleh Deni Kurniawan*
SAKAT duduk di meja kerjanya. Matanya lekat-lekat menatap layar komputer yang mulai melambat.
Pria 30 tahun itu hanya terdiam. Sesekali dia mengaduk-aduk kepalanya. Belum ada kerjaan yang dikerjakan. Pikirannya melayang ke istri dan anak di rumah.
Keluarga Sakat hidup di sebuah rumah kontrakan.
Dari tempat tinggal sederhana itu, setiap pagi Sakat berangkat kerja naik motor tuanya.
Di kantor, dia bekerja sebagai staf biasa. Tidak ada yang istimewa dari pekerjaan Sakat.
Mengetik surat, mencatat laporan, menemui tamu.
Setiap kali gajian, dada Sakat terasa lega. Kendati, besaran upah yang diterimanya tak seberapa besar. Yakni, Rp 2.500.000 per bulan.
Walaupun tidak besar, setidaknya cukup untuk membayar kontrakan, listrik, air, dan kebutuhan pokok.
Saat asa sisa, biasanya Rp 200.000, nominal itu disisihkan untuk ditabung.
Siang itu, Sakat sedang libur. Istrinya sedang menidurkan anak mereka yang baru berusia tiga tahun.
Sakat yang semula mencabuti rumput di halaman depan, beranjak ke dapur. Rasa lapar menjalari perutnya.
Tudung nasi dibuka. Ada beberapa potong tempe, tahu, dan sayur bening.
“Mas, uang belanja bulan depan bisa ditambah sedikit? Harga sayur sekarang naik semua,” ucap sang istri yang menghampirinya.
Sakat menghela napas. “Insya Allah bisa. Tapi kita harus benar-benar hemat. Penggunaan alat-alat listrik sepertinya masih busa ditekan,'' ujar Sakat.
Istrinya tak merespons, hanya menatap mata Sakat dalam-dalam.
''Bajuku tak usah disetrika, cukup yang biasa untuk kerja saja,'' ucap Sakat.
Sang istri tersenyum sembari berkata, “Ya sudah, yang penting beras dan susu anak cukup,”.
Sakat sadar, hidupnya tak jauh-jauh dari kata sederhana.
Hujan turun perlahan saat sudah malam. Kontrakan mereka terasa hangat. Sakat duduk sendiri di teras.
''Soal matematika tersulit adalah Rp 2.500.000 dibagi 30 hari, alhamdulillah,'' gumam Sakat seraya mengaduk-aduk kepalanya. (*)
*Penulis cerpen SAKAT redaktur Jawa Pos Radar Madiun
Editor : Deni Kurniawan