Lakon wayang Ki Tarko Tumbal oleh Ki Damar*
DI sebuah gubuk kecil di tepi Sungai Serayu, hiduplah Ki Tarko bersama istrinya, Nyi Wresni.
Setiap hari Ki Tarko bekerja sebagai penyebrang sungai yang menghubungkan Astina dengan Tegal Kuru Kasetra.
Pekerjaan itu adalah satu-satunya sumber penghasilan keluarga mereka.
Namun, suasana negara sedang tegang. Kabar perang Baratayudha mulai terdengar di mana-mana.
Nyi Wresni khawatir dan meminta suaminya beristirahat.
“Kakang, lebih baik istirahat saja. Negara kita sedang bersiaga perang,” ucap Nyi Wresni cemas.
Ki Tarko hanya menggeleng. Baginya, berhenti bekerja sama saja dengan menghentikan aliran nafkah keluarga.
“Bila aku berhenti, kita makan apa? Negara tidak menanggung hidup kita. Kita hanya bisa bergantung pada penghasilanku dari menyebrang orang, sedangkan kau hanya berjualan daun singkong di pasar. Kalau aku libur, berarti kita tidak makan sehari,” jawabnya tegas.
Nyi Wresni ragu, apakah masih ada orang yang mau menyeberang sungai saat negara bersiap perang.
Ki Tarko pun menegaskan bahwa hidup rakyat kecil tetap harus berjalan.
“Yang berperang adalah prajurit Astina dan Pandawa. Rakyat tetap harus mencari makan. Perang itu urusan mereka yang punya kepentingan,” ujarnya.
Namun, Nyi Wresni mengingatkan bahwa menjaga ketenteraman negara adalah kewajiban semua warga.
“Itu dulu, Nyi. Perang dulu memang untuk menjaga kedamaian dan negara. Tapi lihatlah sekarang, mereka berperang karena haus kekuasaan dan jabatan. Padahal mereka satu darah dan satu keluarga.” (*/den)
*Penulis lakon wayang kulit Ki Tarko Tumbal alumnus ISI Surakarta
Editor : Deni Kurniawan