Lakon wayang Ki Tarko Tumbal oleh Ki Damar*
MALAM itu, suasana gubuk di tepi Sungai Serayu terasa muram. Nyi Wresni duduk gelisah sambil menatap wajah suaminya.
“Kenapa dunia ini harus ada perang, Pakne? Mereka tidak sadar bahwa rakyat yang paling menderita. Mayat berserakan, darah mengalir. Bukankah ini seperti binatang saling memangsa?” keluh Nyi Wresni.
Ki Tarko hanya terdiam sejenak sebelum menjawab.
“Begitulah perang, Bukne. Jika musyawarah gagal, jalan terakhir ya peperangan. Kita rakyat kecil hanya bisa mengikuti alur dari pemerintah. Kita tak punya kuasa, yang penting kita bisa bertahan hidup.”
Nyi Wresni kemudian memandang anak mereka yang tertidur pulas. Air mata hampir jatuh di pipinya.
“Aku kasihan pada anak kita. Umurnya baru tujuh tahun, kenapa dia harus hidup di masa perang? Aku takut mentalnya terganggu. Bagaimana jika setiap hari dia melihat mayat mengapung di sungai?”
Ki Tarko memegang tangan istrinya, mencoba menenangkan.
“Justru aku berharap anak kita jadi lebih dewasa. Dengan melihat semua ini, dia akan tahu betapa buruknya pertikaian. Kelak ketika dewasa, dia akan berpikir panjang sebelum membuat keputusan yang memicu konflik.”
Nyi Wresni terdiam. Baginya, terlalu berat membiarkan anak sekecil itu menghadapi kenyataan.
“Bukne, jangan kita tutupi matanya dari kenyataan. Biarkan dia melihat dunia apa adanya, supaya pola pikirnya terbentuk dan dia lebih bijak di masa depan,” ujar Ki Tarko. (*/den)
*Penulis lakon wayang Ki Tarko Tumbal alumnus ISI Surakarta
Editor : Deni Kurniawan