Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Lakon Wayang Ki Tarko Tumbal 3: Mundur sebagai Prajurit karena Pemerintahan yang Zalim

Ki Damar • Jumat, 19 September 2025 | 03:20 WIB
Ki Tarko dan istrinya di salah satu adegan lakon wayang Ki Tarko Tumbal.
Ki Tarko dan istrinya di salah satu adegan lakon wayang Ki Tarko Tumbal.

Lakon wayang Ki Tarko Tumbal oleh Ki Damar*

PAGI itu, Ki Tarko bersiap menuju sungai.

“Sudah, Bukne. Hari semakin siang. Doakan bapak lancar hari ini,” ujar Ki Tarko sembari melangkah ke pintu.

Nyi Wresni mengantar suami sampai depan gubuk, mencium tangannya dengan rasa cemas. Suara genderang perang dari kejauhan terdengar menggema hingga ke pelosok desa.

Hati Ki Tarko bergetar. Naluri lamanya sebagai prajurit seolah bangkit kembali. Ada dorongan untuk ikut bertempur. Namun, ia sadar kini hanya seorang ayah yang harus pulang utuh demi keluarganya.

Sejatinya, Ki Tarko bukan sembarang rakyat. Ia adalah mantan prajurit di era Prabu Abiyasa, berhenti saat pemerintahan Prabu Pandu.

Keputusannya mundur sebagai prajurit diambil setelah melihat kesalahan besar dalam pemerintahan, terutama kebijakan Patih Sengkuni yang dianggapnya zalim.

“Aku tak sanggup lagi melayani ketika negara dipimpin orang yang menipu rakyatnya,” kenang Ki Tarko.

Kini, ia hanya menjadi penjaga perahu di Sungai Serayu. Meski pangkatnya kecil dulu, kesetiaan pada Abiyasa dan Pandu tetap ia simpan di dada.

Masa pemerintahan Duryudana membuat hidup rakyat semakin terhimpit.

Pajak dinaikkan, korupsi merajalela, pejabat hanya mementingkan keluarga sendiri.

Siapa pun yang menentang dianggap pengkhianat dan dihukum. Inilah yang membuat Ki Tarko makin muak dengan elit istana.

“Rakyat disuruh patuh, tapi pemimpin lupa bahwa mereka hidup dari keringat rakyat,” gumamnya.

Hari itu, Perang Baratayudha Jaya Binangun benar-benar meletus.

Panah beterbangan, suara gendang perang semakin keras. Penumpang prahu Ki Tarko panik.

Banyak yang memilih meloncat ke sungai agar tidak terkena panah nyasar. Situasi semakin genting.

Di sisi lain, Sengkuni dan Dursasana berhenti di jembatan, terdiam sejenak.

“Aku teringat kata-kata Kakang Durna,” ujar Sengkuni lirih.

“Bagaimana maksudmu, Man?” tanya Dursasana. (*/den)

*Penulis lakon wayang kulit Ki Tarko Tumbal alumnus ISI Surakarta

Editor : Deni Kurniawan
#perang #astina #Ki Tarko Tumbal #kurawa #Pandawa #kisah #wayang kulit #Baratayudha #Lakon #wayang #Cerita