Lakon wayang Ki Tarko Tumbal oleh Ki Damar*
Di tepi jembatan, Sengkuni tampak termenung.
“Dur, kata Kakang Durna, Perang Baratayudha hanya akan dimenangkan bila ada tumbal. Hari pertama ini krusial. Kita belum punya satu pun tumbal. Aku takut Kurawa kalah sebelum sempat bertarung serius!” kata Sengkuni dengan nada khawatir.
Dursasana mendengarkan dengan kening berkerut.
“Tumbal apa, Paman? Masa kita harus mengorbankan prajurit sendiri?”
Sengkuni menggeleng.
“Tidak bisa, Dur. Tumbal harus dari luar penyelenggara perang. Prajurit kita atau sekutu tak boleh disentuh. Kalau mereka mati, kekuatan kita malah berkurang. Kita butuh korban dari luar, dari rakyat biasa.”
Dursasana tersenyum licik.
“Baiklah, Paman. Aku akan mencari tumbal di sekitar Sungai Serayu. Mungkin seorang penyeberang atau warga yang sedang melintas.”
Rencana itu membuat udara sekitar terasa mencekam.
Nasib rakyat kecil seperti Ki Tarko kini berada di ujung tanduk. Tanpa disadari, kehidupannya yang sederhana bisa menjadi taruhan bagi kejayaan Kurawa.
Sengkuni hanya tersenyum puas.
“Cepat, Dur. Kejayaan puluhan tahun Kurawa tak boleh hancur hanya karena satu tumbal tak ditemukan. Sejarah hanya mengingat pemenang, bukan korban.”
Dursasana bergegas menyusuri tepian sungai. Genderang perang masih terdengar di kejauhan.
Ki Tarko yang sedang mendayung perahunya tak menyadari bahwa dirinya sedang menjadi incaran untuk dijadikan tumbal. (*/den)
*Penulis lakon wayang kulit Ki Tarko Tumbal alumnus ISI Surakarta
Editor : Deni Kurniawan