Cerpen Rajapati Arjosari Pacitan oleh Deni Kurniawan*
JARUM jam mendekati angka sembilan. Sakat duduk di bangku kecil depan warung kopi sederhana di pinggir jalan.
Sarban, teman lamanya sejak SD, menyusuri jalanan sambil tergesa masuk ke warung yang sama.
Dia mendapati Sakat sudah menunggu. Dua cangkir kopi panas tersaji.
"Udara malam ini berat, Kat," kata Sarban sembari menarik bangku yang diduduki.
"Aku dengar kabar, ada pembacokan Arjosari, Pacitan. Mantan suami ngamuk ke rumah mantan istri yang mau kawin lagi. Satu korban meninggal, empat luka-luka,'' ucap Sakat.
Keduanya lantas terlibat pergunjingan tentang aksi brutal di Desa Temon, Kecamatan Arjosari, Kabupaten Pacitan, pada Sabtu, 20 September 2025, itu.
Dalam kasus itu, seorang pria bernama Wawan seperti orang kesetanan.
Amarahnya memuncak setelah mendengar kabar, mantan istrinya mau menikah lagi.
Padahal, Wawan sempat mengajak rujuk. Namun, niat itu bertepuk sebelah tangan.
Pikirannya kalut. Dadanya panas. Sebagai pria, dia merasa dipermalukan.
Galap mata gelap hati, Wawan akhirnya mengambil sebilah golok di lemari.
Dia buru-buru memacu motor ke rumah mantan istrinya.
Setelah sekitar 30 menit perjalanan, Wawan telah sampai di tujuan.
Cekcok berlangsung dalam suasana mencekam karena Wawan terus menenteng goloknya.
Mantan ibu mertua mencoba menengahi. Namun, amarah semakin menjadi-jadi.
Kata-kata yang keluar dari mulut mantan ibu mertua justru membakar emosi Wawan.
"Kau tahu? Korban tewas itu namanya Timi. Setelah itu, Wawan membabi buta mengakuk. Mantan istri dan tiga kerabat lain ikut terluka,'' ujar Sakat setelah menyeruput kopi.
Sarban menelan ludah lalu berkata, "Orang sakit hati itu bahaya,".
Sakat mengangguk.
Malam makin larut. Sarban memecah keheningan.
"Bagaimana kalau keluarga Timi menuntut keadilan sendiri, bukan lewat hukum?'' tanya Sarban.
''Kelak, akan ada rajapati lagi, suatu saat. Muncul berita berjudul anak bunuh bapak. Dendam kesumat,'' ucap Sakat.
''Wawan dan mantan istrinya punya satu putra, anak laki-laki itu sempat dibawa kabur Wawan setelah ngamuk,'' lanjutnya.
''Kabar terbaru, anak itu berhasil kabur dari Wawan,'' masih kata Sakat.
Sarban menatap Sakat, mata bersinar takut sekaligus ngeri.
Malam berganti dini hari. Angin sesekali membelai dedaunan pohon.
Empat cangkir kopi, Sakat dan Sarban masing-masing dua, sudah habis.
Sakat berdiri. Dia merogoh saku dan menarik jaketnya lantaran dingin.
“Entah bagaimana, kita akan mendengar kabar lain yang lebih berat,” gumam Sakat. (*)
*Penulis cerpen Rajapati Arjosari Pacitan redaktur Jawa Pos Radar Madiun
Editor : Deni Kurniawan