Lakon wayang Wahyu Ayam Cemani oleh Ki Damar*
NEGARA Amarta yang biasanya cerah kini terasa gelap. Para Pandawa murung setelah mendengar kabar bahwa Prabu Sri Batara Kresna, raja Duwarawati, jatuh sakit.
Bukan sakit biasa. Tubuh Kresna terbujur kaku, mata terpejam, bahkan setetes air pun tak mau ia teguk. Keadaan ini membuat para senopati dan pejabat kerajaan Duwarawati gelisah dan meminta nasihat Prabu Puntadewa.
Puntadewa berkata:
“Bila ada obat atau cara menyembuhkan Kakang Prabu Kresna, aku pasti akan melakukannya, Yayi Setyaki.”
Setyaki, satria Lesanpura, menyampaikan kegelisahan para punggawa: mereka takut hal buruk menimpa rajanya.
Kyai Semar akhirnya angkat bicara. Dengan nada dalam, ia menjelaskan bahwa ini adalah peristiwa langka.
“Prabu Kresna seperti sangkar burung yang terbuka, burungnya terbang entah ke mana. Tubuhnya ada di sini, tapi jiwanya pergi.”
Perkataan itu membuat Pandawa dan para pejabat terdiam. Arjuna mencoba menafsirkan maksud Semar, namun tetap tak mengerti.
“Kakang Semar, gunakan bahasa yang lebih mudah kami pahami. Kami hanya manusia biasa, bukan dewa seperti dirimu.”
Namun Semar menolak menjabarkan lebih jauh.
Ndara Pandawa, hamba hanya diberi wangsit. Tak berkenan menjelaskan lebih banyak,” jawabnya singkat.
Teka-teki itu membuat suasana di istana semakin berat, seolah menjadi pertanda besar yang akan segera terjadi. (*/den)
*Penulis lakon wayang kulit Wahyu Ayam Cemani alumnus ISI Surakarta
Editor : Deni Kurniawan