Lakon wayang Wahyu Ayam Cemani oleh Ki Damar*
DALAM perjalanan ke Dwarawati, Werkudara terus menggerutu.
“Kalau Petruk bohong, aku yang pertama memukulnya!” geram Bima.
“Benar! Aku pun siap dengan gada Nagabanda!” timpal Setyaki.
Namun Petruk tetap percaya diri, bahkan tersenyum sepanjang perjalanan.
Sesampainya di Kahyangan Alang-alang Kumitir, Petruk menghadap Hyang Wenang.
“Pukulun, Prabu Kresna sakit. Bapak saya, Kyai Semar, mendapat wangsit: ‘sangkar burung terbuka, burungnya terbang entah kemana’. Saya tidak paham maksudnya, tapi yakin wangsit itu dari Paduka,” ujar Petruk.
Hyang Wenang tersenyum tipis.
“Jadi kau tak benar-benar tahu artinya? Baik, dengarkan. Raga Kresna sedang kehilangan sukma Batara Wisnu. Itulah sebabnya ia terbaring sakit.”
Hyang Wenang kemudian memberikan sesuatu yang tak disangka.
“Bawa ayam cemani ini. Inilah wahyu. Letakkan di dekat Kresna, maka sukma Batara Wisnu akan kembali ke raga-nya.”
Petruk terkejut.
“Pukulun, bagaimana jika mereka malah menyembelih ayam ini? Saya bisa dihajar Bima dan Setyaki!”
Hyang Wenang hanya tertawa.
“Percaya saja, Petruk. Ayam ini bukan sembarang ayam. Ini adalah wahyu yang akan mengembalikan keseimbangan Dwarawati.” (*/den)
*Penulis lakon wayang Wahyu Ayam Cemani alumnus ISI Surakarta
Editor : Deni Kurniawan