Lakon wayang Wahyu Ayam Cemani oleh Ki Damar*
PETRUK kembali dari kahyangan dengan wajah cemas, membawa ayam cemani yang ia terima dari Hyang Wenang.
“Kalian jangan marah. Aku hanya diberi ayam ini,” ujar Petruk, mencoba meyakinkan Setyaki.
Semar yang bijak segera menenangkan semua pihak.
“Ndara Setyaki, bawa ayam ini ke hadapan Prabu Kresna,” perintah Semar.
Begitu ayam cemani diletakkan di sisi Kresna, sesuatu yang ajaib terjadi. Ayam itu tiba-tiba lenyap, seolah menyatu dengan tubuh Kresna. Seketika, Prabu Kresna terbangun.
“Akhirnya aku sadar…” ucap Kresna lemah namun tersenyum.
Tangis bahagia pecah di istana. Setyaki bersimpuh penuh syukur.
“Syukurlah, Paduka!” serunya.
Prabu Kresna memanggil Petruk ke hadapannya.
“Petruk, engkau bukan sekadar punakawan. Engkau penyelamatku. Ayam yang kau bawa tadi adalah separuh nyawaku. Sebagai balas jasa, aku akan menghadiahimu separuh hatiku: anakku, Dewi Purantawati, akan kunikahkan denganmu suatu hari nanti.”
Petruk terharu, memeluk Prabu Kresna. Para Pandawa bersorak gembira, dan suasana Dwarawati kembali dipenuhi cahaya. (*/den)
*Penulis lakon wayang kulit Wahyu Ayam Cemani alumnus ISI Surakarta
Editor : Deni Kurniawan