Cerita Tokoh Wayang oleh Ki Damar*
Bratasena atau Bima adalah putra Prabu Pandu, raja Astina, dengan Dewi Kunti Tali Brata dari Mandura. Sejak lahir, Bima sudah memiliki kisah unik yang membedakannya dari manusia biasa.
Ia lahir tidak langsung sebagai bayi, melainkan masih terbungkus plasenta selama 12 tahun.
Selama masa itu, Bima diletakkan di hutan Mandalasara agar tetap hidup dengan menyerap kekuatan alam.
Dari kisah kelahirannya, dapat dipahami mengapa Bima tidak mampu berbahasa krama.
Pada masa yang seharusnya ia belajar tata krama dan budi pekerti, ia justru hidup bersama binatang hutan.
Akibatnya, bahasa yang ia kuasai hanyalah ngoko kasar atau lugu. Semua orang akhirnya memaklumi keadaan Bima, meskipun berbeda dengan saudara-saudaranya.
Namun, di balik keterbatasan itu, Bima memiliki pandangan yang dalam. Menurutnya, semua manusia sama di mata Tuhan.
Bahasa tidak boleh menjadi alasan untuk membeda-bedakan, apalagi sampai melupakan kewajiban tertinggi, yaitu menyembah Tuhan.
Menariknya, Bima hanya menggunakan bahasa krama kepada Hyang Batara Ruci, sosok dewa yang merupakan manifestasi Tuhan dalam dirinya.
Kepada Batara Ruci, Bima bersikap penuh hormat.
Pasalnya hanya dialah yang benar-benar memahami Bima dan mengajarinya ilmu kehidupan, ilmu kasampurnan, hingga Bima menemukan jati dirinya.
Karena pengalaman ini, Bima menjadi satu-satunya tokoh dalam pewayangan yang mencapai tingkat manunggaling kawula Gusti, yaitu bersatunya hamba dengan Tuhannya.
(*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani