Sebuah cerpen oleh Deni Kurniawan*
TIGA ekor nyamuk tengah berbincang di sebuah terminal kawasan kaki Gunung Lawu.
Satu sama lain saling cerita tentang orang yang baru saja digigit.
Seekor pertama mengatakan bahwa hidupnya nyaris berakhir. Hampir kena tepuk pria tua yang digigitnya.
Yang kedua, merasa perutnya mual dan kembung setelah menggigit pegawai negeri sipil (PNS) dinas kabupaten bertubuh gemuk yang tidur amat pulas.
Sementara nyamuk ketiga, menyampaikan cerita dengan mata berkaca-kaca. Seorang kiai yang digigit ternyata mengerti bahasa nyamuk. Bahkan, sengaja merelakan darahnya dihisap.
Nyamuk dan Pria Tua
Nguing di telinga Kaslan terdengar lebih keras dibanding klakson bus yang baru datang.
Telapak tangannya merespons dengan cepat, melayang lalu mendarat ke pipi, plak!
Kaslan lantas terbangun dari tidur.
Sebotol air di tas yang digendong di dada diambil.
Dua teguk, tiga teguk, empat teguk. Tutup botol dikencangkan lagi.
Kaslan bangkit dari bangku yang diduduki.
''Dasar nyamuk, kenapa tidak menggigit orang gemuk di sampingku tadi,'' gumam pria tua itu sembari berjalan ke toilet umum.
Kaslan seorang duda. Istri meninggal empat tahun lalu karena sakit.
Sejatinya dia ingin menikah lagi, kepincut janda depan rumah.
Namun, putri semata wayangnya melarang.
Seorang gadis cantik, secantik mendiang sang ibu, yang saat itu hendak Kaslan jenguk.
Putrinya sedang menyelesaikan semester akhir di salah satu universitas kenamaan di Yogyakarta.
Nyamuk dan PNS Gemuk
Seorang pedagang asongan menawarkan air minum kemasan.
Sarban tak bergeming. Dengan mata terpejam, dia cuma menggerakkan tangan sebagai isyarat enggan membeli.
Pegawai dinas pariwisata itu lantas bersilang kaki.
Salah satu ujung celana tertarik ke atas, memperlihatkan pergelangan kaki.
Hal itu diketahui seekor nyamuk yang dengan cepat mendarat.
Semula, nyamuk sangsi menancapkan mulut. Dia mencium aroma darah yang amis, tak enak baginya.
Kepalang tanggung dan memang sudah lapar, nyamuk bergegas tanpa pikir panjang.
Aksi sedot darah berlangsung lancar. Tidak ada kendala berati seperti pembangunan infrastruktur negeri ini.
Hanya, suara dengkuran yang membuat nyamuk agak risih. Si PNS gemuk tidur sangat pulas.
Dan sekarang, giliran nyamuk yang menjadi gemuk.
Dia terbang dengan perut membuncit, berwarna merah, nyaris meletus.
Nyamuk dan Pak Yai
Seorang pria muda berpeci hitam duduk tenang. Kedua tangan diletakkan di atas pengkuan.
Di sampingnya, bersandar sebuah tas dengan kelir hitam yang sudah memudar.
Dia tak banyak bergerak. Hanya sesekali menengok ke arah pintu penjemputan.
Pandangannya lebih sering ke arah bawah dari kursi yang diduduki.
Dia tak menyangka, lima tahun sudah belajar di sebuah pondok pesantren di Kudus.
Berbagai kenangan berputar-putar di kepala.
Sejurus kemudian, dia tersenyum.
Kelakar seorang teman yang diucap setelah santri senior memarahinya karena meng-qadha salat subuh.
''Niru Rasul dan Bilal, kang (sapaan untuk santri senior yang bertugas membangunkan santri baru)''.
Ketika asyik berkenang, seekor nyamuk hinggap di punggung tangan pria muda berpeci hitam itu.
Nyamuk clingak-clinguk memantau situasi.
Si pria muda peci hitam mengamati gelagat nyamuk.
Merasa kondisi aman, nyamuk seketika melancarkan aksinya.
Sembari menghisap, nyamuk melihat ke arah orang yang sedang dihisapnya.
Pria muda sadar bahwa nyamuk menatapnya. Namun, si peci hitam malah tersenyum.
''Lanjutkan sampai kenyang!'' ucapnya.
''Kenapa kau tidak menepukku? Menggerutu pun tidak, justru tersenyum,'' heran nyamuk.
''Mengapa apa harus menggerutu? Aku takjub dengan kehebatan Dzat yang menciptakan mulut kecilmu'' jawabnya.
''Ketahuilah, apa yang kulakukan ini padamu bukan semata mencari kenyang. Tapi, ngalap berkah dari wali sepertimu,'' terang nyamuk.
Selang beberapa lama, nyamuk undur diri dengan sopan lalu terbang.
Bersamaan dengan itu, sebuah suara terdengar, ''Pak Yai, di sebalah sini,''.
Pria muda peci hitam mendapati kakaknya melambai-lambaikan tangan di gerbang penjemputan dengan senyum yang lebar. (*)
*Penulis cerpen redaktur Jawa Pos Radar Madiun
Editor : Deni Kurniawan