Lakon wayang Sumali Gugur oleh Ki Damar*
NEGARA Alengka yang kala itu dipimpin Prabu Sumali tengah diliputi keresahan.
Prabu Wisakarna, penguasa bawahan Alengka, memimpin wilayah kecil namun berpengaruh.
Ketika suasana istana masih tegang, muncullah Raden Rahwana –cucu Prabu Sumali sekaligus putra Begawan Wisrawa– yang datang dengan maksud mengguncang status quo.
“Apakah benar yang kulihat ini? Cucu Prabu Sumali datang sendiri menemuiku? Apa maksud kedatanganmu, Raden Rahwana?”
Rahwana menatap penuh keyakinan.
“Aku datang membawa kabar yang akan menguntungkanmu. Apakah kau berani mengambil kesempatan ini?”
Wisakarna tertawa kecil, heran dengan keberanian pemuda itu.
“Raden, engkau masih muda. Bagaimana aku bisa percaya pada ucapanmu? Belum ada kekuasaan yang kau genggam.”
Namun Rahwana tak gentar.
“Justru karena aku muda, aku datang membawa peluang besar. Eyang Sumali sudah renta. Sampai kapan kau hanya menjadi raja bawahan?''
''Pergilah ke Alengka, mintalah kemerdekaan, dan rebut kejayaanmu sendiri!” lanjutnya.
Perkataan Rahwana membuat Wisakarna termenung.
Inilah awal dari benih pemberontakan yang akan mengubah wajah Alengka selamanya. (*/den)
*Penulis lakon wayang kulit Sumali Gugur alumnus ISI Surakarta
Editor : Deni Kurniawan