Lakon wayang Sumali Gugur oleh Ki Damar*
WISAKARNA masuk ke istana dengan langkah mantap. Para prajurit Alengka terkejut melihatnya datang bersama pasukan.
Wisakarna berseru lantang: “Salam hormat, Sinuwun Prabu Sumali. Aku datang bukan untuk tunduk, tetapi untuk menuntut hak kemerdekaan negeriku!”
Prabu Sumali turun dari singgasana. Wajahnya memerah menahan marah.
Sumali membalas dengan tegas:
“Beraninya kau masuk dengan prajurit dan menantangku! Apakah kau buta, Wisakarna?!”
Wisakarna tak gentar.
Ia berkata:
“Aku datang membawa suara rakyatku. Mereka sengsara karena jajahan Alengka. Hentikan penindasan! Serahkan kemerdekaan kami, tuliskan dengan tinta emas bahwa Guagendra merdeka!”
Namun, Prabu Sumali menolak mentah-mentah.
Sumali berkata:
“Tidak akan! Kerja sama kita penting untuk menjaga kestabilan Alengka!”
Wisakarna menggebrak lantai istana.
Wisakarna menantang:
“Stabilitas apa, bila prajuritmu merampas, memperkosa, dan membunuh rakyatku? Jika engkau tidak menyerahkan kemerdekaan, maka darah akan tumpah di istana ini!”
Prabu Sumali yang murka akhirnya menghunus pedang Mentawa. Udara istana terasa menegang. (*/den)
*Penulis lakon wayang kulit Sumali Gugur alumnus ISI Surakarta
Editor : Deni Kurniawan