Tokoh wayang kulit oleh Ki Damar*
SEPERTI telah banyak diketahui, Arjuna adalah putra Prabu Pandu Dewanata, raja Astina, dengan Dewi Kunti Talibrata.
Namun, di balik kelahirannya, tersimpan kisah panjang penuh kutukan dan anugerah para dewa.
Suatu hari, Prabu Pandu tengah berburu di hutan. Ia memanah seekor kidang, yang ternyata penjelmaan seorang resi bernama Resi Kimindama.
Kidang itu sebenarnya sedang bersatu dengan istrinya yang juga menjelma rusa betina. Saat terkena panah, Kimindama murka. Dengan nafas terakhir, ia mengutuk Pandu: bila kelak sang raja berhubungan badan dengan istrinya, maka ajal segera menjemput.
Kutukan membuat Pandu ketakutan. Sejak saat itu, ia menjauhi Dewi Kunti maupun Dewi Madrim, meski keduanya sangat berharap keturunan.
Hingga akhirnya, Dewi Kunti memberanikan diri bertanya sebab kegelisahan suaminya. Pandu pun menceritakan kutukan yang menjerat hidupnya.
Mendengar itu, Kunti ingat akan sebuah ajian sakti: Kunta Talining Rasa Cipta Tunggal Tanpa Lawan, sebuah anugerah yang memungkinkannya memperoleh keturunan tanpa melalui persetubuhan, melainkan lewat doa dan pemujaan kepada para dewa.
Pertama, ia memuja Batara Bayu, lahirlah Bima. Kedua, ia memuja Batara Darma, lahirlah Puntadewa.
Ketiga, ia memuja Batara Indra, sang raja para dewa sekaligus penguasa bidadari di kahyangan Karangkandran.
Dari anugerah Batara Indra inilah lahir seorang putra yang tampan rupawan: Arjuna.
Karena kelahiran dan asal-usulnya, Arjuna juga disebut Raden Indratanaya, artinya putra Batara Indra.
Tak heran bila kelak Arjuna dikenal sebagai satria tampan, cerdas, dan penuh wibawa.
Banyak bidadari jatuh cinta padanya, sebab darah kahyangan yang diwarisinya.
Sebagai titisan Indra, ia tak hanya menjadi kebanggaan Pandawa, melainkan juga lambang kesempurnaan manusia: gagah dalam perang, halus dalam sastra, sekaligus memesona bagi siapapun yang melihatnya. (*/den)
*Penulis tokoh wayang kulit alumnus ISI Surakarta
Editor : Deni Kurniawan