Cerpen Mokmen oleh Deni Kurniawan*
SEKUMPULAN mahasiswa teknik tengah bersiap pelesir ke Jogja. Deretan pantai di Gunung Kidul jadi tujuan utama.
Beragam perbekalan dikemas. Mulai tenda, alat masak sederhana, sampai pakaian ganti.
Empat motor delapan pemuda.
Salah seorang di antaranya bernama Sakat.
Dia seorang anak petani di kawasan kaki Gunung Lawu.
Kendati demikian, dia punya banyak cerita tentang polisi. Terutama bagian lalu lintas.
Kepiawaiannya berkisah dipraktikkan sesaat sebelum berangkat berlibur akhir semester tiga itu.
''Yang di depan ada SIM semua, kan?'' celetuk Sakat tiba-tiba.
Teman-teman Sakat saling pandang satu sama lain.
Sejurus kemudian, mereka cengengesan. Semua paham maksud gelagat sebagai respons atas pertanyaan tersebut.
Sakat yang mengetahui hal itu seketika ikut terpingkal.
Bukan niat hati untuk sombong, si pemuda penyuka drama Korea itu ternyata juga tidak mengantongi SIM.
''Bagaimana kalau ada mokmen?'' tanya seorang teman.
Beberapa dari mereka mengernyitkan dahi. Kepala mendadak muncul pertanyaan, Apa itu mokmen?
Sakat lalu menjelaskan bahwa mokmen adalah istilah untuk petugas operasi lalu lintas.
Yang merasa tidak tahu pun akhirnya manggut-manggut.
''Bagaimana kalau ada mokmen?'' tanya seorang teman itu lagi dengan naga yang lebih tinggi.
Mereka seketika dirundung bingung. Rencana berlibur di ambang batal.
''Tenanglah wahai saudara-saudaraku, semua bisa diatur,'' ucap Sakat sembari memelintir kumis tipisnya.
''Selipkan duit Rp 50 ribu di lipatan STNK, dijamin liburan penghujung 2024 ini aman adil dan sejahtera,'' lanjut Sakat.
Dia kemudian mengarang cerita bahwa dirinya sudah beberapa kali melakukan hal itu.
Dasar lidah lancip, apa yang dikatakannya dipercaya yang lain.
Namun, salah seorang teman menyatakan tidak setuju dengan ide Sakat.
Sebab, itu adalah praktik suap yang membuat bobrok negeri ini.
Seorang teman itu bergegas menunjukkan peta digital di handphone-nya.
Dia memaparkan dengan gamblang jalur alternatif yang dianggap jarang jadi lokasi operasi.
Tetapi, jarak tempuh yang berlipat-lipat jadi risikonya.
Perdebatan terjadi. Delapan mahasiswa itu lantas mencoba menerapkan sistem demokrasi.
Mereka menggelar pemungutan suara. Selembar kertas diambil lalu disobek kecil-kecil menjadi delapan potong.
Tiap orang diberi satu untuk menuliskan pilihan.
Antara menyelipkan duit Rp 50 ribu di lipatan STNK atau melewati jalur alternatif.
Selang beberapa saat kemudian, penghitungan suara digelar.
Hasilnya, bibir Sakat melebar.
''Ideku memang paling brilian,'' ujar Sakat. (*)
*Penulis cerpen Mokmen redaktur Jawa Pos Radar Madiun
Editor : Deni Kurniawan