Gaya Hidup Hiburan Internasional Kab. Madiun Kota Madiun Magetan Nasional Ngawi Olahraga Pacitan Ponorogo

Amit Amit Jabang Bayi, Jangan Sampai Anak Cucu Jadi Perangkat Desa

Deni Kurniawan • Jumat, 3 Oktober 2025 | 02:28 WIB

 

Nenek yang sedang kesal rumah banyak lalat karena dekat kandang ayam.
Nenek yang sedang kesal rumah banyak lalat karena dekat kandang ayam.

Sebuah cerpen oleh Deni Kurniawan*

TEPAKAN sapu lidi dengan lantai terdengar berkali ulang di suatu siang. Itu ulah nenek yanng sedang rebahan di atas gelaran tikar di teras depan. Dia gusar dengan lalat beterbangan.

''Amit amit jabang bayi, apa lalat bisa hidup lagi setelah mati,'' gumam nenek dengan tetap menggenggam kuat sapu lidi.

Hati nenek dongkol. Alih-alih beristirahat setelah menjemur gabah, dia malah diganggu hewan menjengkelkan itu.

Banyaknya lalat bukan karena rumah yang jorok. Para tetangga sepakat bahwa hal itu disebabkan kandang ayam yang tak jauh dari permukiman.

Tak banyak yang bisa dilakukan warga. Beberapa kali wadul ke pemerintah desa, tak membuahkan hasil.

Kata Pak Carik, keluhan sudah disampaikan ke kabupaten. Warga diminta sabar menunggu tindak lanjut.

Namun, perkataan sekretaris desa itu sudah lama. Bahkan, nyaris satu tahun cuma jadi cerita dari warung ke warung.

Sementara nyatanya, lalat masih kelewat banyak berseliweran di tempat tinggal nenek.

Pun, beberapa rumah di samping kiri, kanan, dan depan, lansia sebatang kara itu.

Nenek tinggal sendirian. Suaminya meninggal dua tahun lalu. Sementara anak-anaknya, sudah punya keluarga sendiri dan hidup mandiri.

Plak... Plak... Nenek masih sibuk dengan sapu lidi dan lalat-lalat yang bandel.

Sejurus kemudian, seorang perangkat desa mendatangi nenek.

Singkat cerita, nenek sedang didata sebagai calon penerima bantuan sembako.

Plak... Plak... Plak... Nenek tetap dengan kegusarannya terhadap lalat saat ditanya-tanyai oleh perangkat desa.

Raut wajah nenek tetap dengan kegeramannya. Seikat sapu lidi masih di genggaman tangannya kuat-kuat.

''Sabar ya, Mbah. Kata Pak Carik, dinas kabupaten akan datang ke sini, melihat kandang ayam secara langsung,'' kata perangkat desa itu.

''Omong kosong! Telingaku sudah bosan mendengar perkataan itu,'' ucap nenek.

 Baca Juga: Cerita Pak Yai, Kaslan, Seorang PNS Gemuk, dan Tiga Ekor Nyamuk

''Amit amit jabang bayi, semoga anak cucu dan keturunanku kelak tidak ada yang jadi perangkat desa yang gelap mata gelap hati,'' lanjutnya sembari meminta pergi si perangkat.

''Jangan menyogok! Aku tidak dapat bantuan sembako tidak apa-apa. Yang terpenting, lalat-lalat dari kandang ayam itu cepat diatasi,'' nenek terus-terusan ngomel. (*)

*Penulis cerpen redaktur Jawa Pos Radar Madiun

Editor : Deni Kurniawan
#Carik #perangkat desa #cerpen #jawa pos #kandang ayam #Deni Kurniawan #lalat #radar madiun #Cerita