Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Kresna Gela 1: Istana yang Dahulu Sakral dan Dihormati, Kini Jadi Tempat Aib dan Pelecehan

Ki Damar • Sabtu, 4 Oktober 2025 | 04:24 WIB
Ilustrasi lakon wayang kulit Kresna Gela.
Ilustrasi lakon wayang kulit Kresna Gela.

 

Lakon wayang Kresna Gela oleh Ki Damar*

DURYUDANA dengan puas mengumumkan hukuman untuk Pandawa.

"Kalian harus menjalani hukuman 13 tahun. 12 tahun di hutan Kamyaka, dan satu tahun bersembunyi di sebuah kota. Jika ketahuan, hukuman dimulai lagi dari awal," tegas Duryudana. 

Drupadi yang tak kuasa menahan sakit hati meluapkan amarahnya.

"Sungguh keji, Duryudana! Kau undang kami ke Astina bukan untuk persaudaraan, tapi untuk merebut Amarta dan Astina. Apakah kau tak takut hukum karma?"

Namun suara Drupadi tak berarti. Ia sudah dilecehkan Dursasana dan Duryudana, sementara para Pandawa tak mampu berbuat apa-apa akibat kalah dalam permainan dadu.

Bisma dan Resi Durna, dua sesepuh kerajaan, hanya bisa terdiam. Mereka tak berdaya.

Bisma berkata lirih:
"Kenapa istana ini berubah? Dahulu sakral dan dihormati. Kini menjadi tempat aib dan pelecehan." 

Air mata menetes, penyesalan bercampur dengan amarah.

Namun tahta Astina sudah jatuh ke tangan Duryudana, dan suara mereka tak lagi berharga.

 

Duryudana semakin congkak di atas penderitaan Pandawa.

"Hei Drupadi, apakah kau ini anak kecil? Jika karma itu ada, pastinya aku sudah menerimanya dari dulu. Lihatlah, hidupku mulus tanpa penderitaan. Sementara kalian, meski rajin beribadah, tetap sengsara," ucapnya sambil tertawa keras. 

Tawa Duryudana menggema di istana Gajahaya, menandai awal penderitaan panjang Pandawa. (*/den)

*Penulis lakon wayang kulit Kresna Gela alumnus ISI Surakarta

 

Editor : Deni Kurniawan
#kurawa #Pandawa #wayang kulit #Kresna #Lakon #wayang #Duryudana #Kresna Gela