Lakon wayang Kresna Gela oleh Ki Damar*
BIMA mengerahkan amarahnya, menatap Duryudana dengan mata yang berkobar.
“Balasan akan kutuntut saat kau di ambang kematian, Kurupati! Aku bersumpah: aku tak akan tenang sebelum menenggak darah Dursasana dan darahmu, Suyudana!”
Duryudana hanya tertawa dingin; baginya sematan ancaman Bima kepada tiga petinggi istanna kerajaan itu adalah kata-kata kosong.
“Impianmu takkan nyata, Bima. Kalian kini pengemis yang diasingkan — tak berhak menantangku. Bahkan leluhur kalian di akhirat tak mampu menolong.”
Kata-kata Duryudana makin menusuk ketika Dursasana dan para Kurawa mengejek. Bima mengamuk, tetapi Puntadewa menahan darah panas adiknya.
“Sudahlah, kembalilah,” ujar Puntadewa menenangkan. “Terlalu lama di sini hanya menambah luka.”
Saat Pandawa meninggalkan istana, Begawan Bisma menghampiri. Ia memeluk cucunya, suaranya pecah oleh penyesalan.
“Maafkan eyangmu yang tak berdaya. Ambillah pedangmu, Puntadewa. Eyang menanggung dosa dan tak mampu melindungi kalian.”
Tangisan Bisma menambah kepedihan perjalanan Pandawa — awal dari pembuangan panjang yang bakal menguji jiwa, kesetiaan, dan janji tak terucap. (*/den)
*Penulis lakon wayang kulit Kresna Gela alumnus ISI Surakarta
Editor : Deni Kurniawan