Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Kresna Gela 3: Cemas Lalu Berlari dan Bersujud di Hadapan Raja

Ki Damar • Sabtu, 4 Oktober 2025 | 04:33 WIB

 

Ilustrasi lakon wayang kulit Kresna Gela.
Ilustrasi lakon wayang kulit Kresna Gela.

Lakon wayang Kresna Gela oleh Ki Damar*

PANDAWA berjalan meninggalkan Astina dengan hati remuk. Namun, langkah mereka terhenti ketika sosok tua penuh wibawa menghadang—Bisma, sang sesepuh yang juga eyang mereka. Matanya berkaca-kaca, suaranya bergetar menahan pilu.

“Eyang, kami tidak pernah membawa senjata ketika pulang ke Astina,” ujar Puntadewa dengan suara tenang.

“Bagi kami, negeri ini rumah yang patut dihormati. Di sini kami dibesarkan, tak mungkin kami menodainya dengan niat buruk. Salah ini bukan salah eyang, melainkan kesalahan kami yang terlena dalam kesenangan.”

Drupadi pun menunduk hormat. “Doakan kami tetap kuat, eyang. Agar suatu saat kembali ke Astina dengan senyum, bukan air mata.”

Bisma tak kuasa menahan tangis. Ia memeluk erat cucu-cucunya, lalu jatuh berlutut hingga Widura harus menuntunnya kembali ke pertapan Talkandha.

Usapan tangannya ke kepala Pandawa adalah tanda cinta yang tak akan luntur hingga dunia hancur.

Sementara itu, di negeri Dwarawati, kabar kekalahan Pandawa dalam permainan dadu sampai ke telinga Prabu Kresna.

Setyaki yang cemas segera berlari dan bersujud di hadapan rajanya.

“Sinuwun, demi Pandawa, sebaiknya paduka turun tangan. Mohonlah pada Prabu Duryudana untuk membatalkan hukuman ini.”

Namun Kresna menatapnya dalam-dalam. “Mengapa aku harus ke Astina, Setyaki?” tanyanya pelan, seakan menimbang nasib Pandawa dan jalan besar yang akan segera terbuka. (*/den)

*Penulis lakon wayang kulit Kresna Gela alumnus ISI Surakarta

Editor : Deni Kurniawan
#kurawa #Pandawa #wayang kulit #Kresna #Lakon #wayang #setyaki #Kresna Gela