Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Akhir Cerita Sang Basukarna: Satria yang Terlahir dari Cahaya Surya, Gugur di Tangan Adiknya Sendiri

Ki Damar • Senin, 6 Oktober 2025 | 02:50 WIB
Ilustrasi tokoh wayang Basukarna ahli memanah
Ilustrasi tokoh wayang Basukarna ahli memanah

Cerita Tokoh Wayang oleh Ki Damar*

Basukarna, atau yang lebih dikenal dengan nama Adipati Karna, adalah putra Dewa Surya dan Dewi Kunti, putri Prabu Basukunti, raja Mandura.

Ia lahir bukan dari rahim, melainkan melalui telinga ibunya, sebagai akibat dari kesalahan Dewi Kunti dalam melafalkan mantra Aji Pameling, sebuah ajian suci peninggalan Resi Druwasa.

Meski mengandung tanpa suami, kesucian Kunti tetap terjaga karena Bathara Surya melindunginya dengan sinar suci yang meniadakan cela duniawi.

Dari garis keturunan ibunya, Basukarna adalah kakak kandung Puntedewa, Bima, dan Arjuna.

Namun, nasibnya berbeda. Karena dibuang sejak bayi dalam sebuah peti hanyut di sungai, ia tidak pernah mengenal keluarga Pandawa dan kemudian diasuh oleh pasangan kusir kerajaan Astina.

Ketika dewasa, kesatria berwajah teduh itu bersahabat erat dengan Prabu Duryudana, raja muda Astina yang kelak menjadi musuh bebuyutan Pandawa.

Persahabatan ini membawa Karna diangkat menjadi raja negara Awangga, sehingga ia lebih dikenal dengan sebutan Adipati Karna.

Selain berbudi luhur, Karna juga terkenal sebagai pemanah ulung dan ksatria berhati emas, walau kerap disalahpahami karena keberpihakannya kepada Kurawa.

Dalam masa pengembaraannya, Basukarna berguru kepada Resi Bargawa (Rama Parasu), sang brahmana sakti yang membenci para ksatria.

Dari sang guru, Karna memperoleh Aji Kalakupa dan Aji Naracabala, dua ajian tinggi tingkat dewa yang hanya diberikan kepada murid terpilih.

Ia juga memiliki pusaka-pusaka kadewatan seperti Kutang Kawacayuda dan Cincin Socamaningrat.

Senjata andalannya Panah Kunta (pemberian Bathara Narada), Panah Wijayacapa (dari Bathara Indra), dan Keris Kiai Jalak yang sakti mandraguna.

Namun, sebagaimana pepatah wayang, “Sakti tanpa budi bakal mati, budi tanpa sakti bakal mati-matian.”

Kesaktian Karna tak dapat menolongnya dari garis takdir yang sudah ditulis para dewa.

Meskipun Basukarna sakti dan berhati ksatria, takdir telah menulis akhir hidupnya di tangan Arjuna, adiknya sendiri.

(*/naz)

*Penulis Alumnus ISI Surakarta

Editor : Mizan Ahsani
#basukarna #Baratayudha #Tokoh #wayang