Kisah wayang kulit oleh Ki Damar*
PANDAWA adalah satria luhur dan berbudi pekerti yang baik. Namun, ada sisi buruk utamanya prabu Puntadewa yang merupakan kakak tertua pandawa.
Ia adalah raja yang jujur, tak pernah berbohong dan suka membantu orang lain.
Sampai banyak yang mengatakan bahwa dia adalah raja yang tidak mempunyai musuh.
Di lain itu ia adalah raja yang senang bermain judi.
Artinya, sebaik apapun manusia pasti ada buruknya, karena manusia adalah makluk yang tak sempurna.
Islam menekankan bahwa manusia adalah makhluk yang diciptakan Allah SWT dengan segala keterbatasan.
Tidak ada satu pun manusia yang sempurna dalam segala hal. Konsep ini tertuang jelas dalam firman Allah SWT dalam surah Al-Kahfi ayat 78.
Ketika Puntadewa menghadiri undangan para kurawa, dia sangat senang karena dengan acra ini pandawa menjalin silaturahmi dengan kurawa.
Di hati Puntadewa dalam lakon wayang Pandawa Dadu itu, pandawa dan kurawa yang saling berselisih akan kembali rukun.
Dalam undangan itu, Pandawa diajak main dadu oleh Kurawa.
Singkat cerita, pandawa kalah. Mereka harus menjalani hukuman menjadi orang buangan 12 tahun dan satu tahun bersembunyi dalam sebuah negara. Itu harga yanh harus dibayar atas kekalahan.
Dalam ajaran Islam, berjudi merupakan tindakan yang amat diharamkan.
"Sesungguhnya setan hanya bermaksud menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu melalui minuman keras dan judi serta (bermaksud) menghalangi kamu dari mengingat Allah dan (melaksanakan) salat, maka tidakkah kamu mau berhenti?" (QS Al-Maidah: 91). (*/den)
*Penulis kisah wayang kulit alumnus ISI Surakarta
Editor : Deni Kurniawan