Cerita Lakon Wayang oleh Ki Damar*
Togog menatap tenang, suaranya lembut saat menjawab. “Kebenaran apa yang Paduka maksud, Sinuwun?”
Prabu Kirmira melanjutkan dengan nada berat.
“Aku ingin tahu, siapa sebenarnya yang membunuh Kanjeng Rama Prabu Kala Pracona?”
Sejenak suasana menjadi hening. Para punggawa istana menunduk, tak ada yang berani menatap mata Togog. Bisik-bisik khawatir teredam oleh napas yang menahan takut.
Pertentangan Sejarah dan Fakta di Balik Catatan Kerajaan
Seorang pembesar berani bersuara, menyinggung catatan sejarah. “Bukankah di buku sejarah tertulis bahwa Ingkang Rama wafat karena gerah?”
Mbilung yang duduk di samping Togog tak tahan, ia menegur dan mencubit kaki Togog seolah ingin mengingatkan jangan gegabah.
Togog menatap sekeliling lalu bicara pelan namun tegas.
“Sudah saatnya kita jujur. Lihatlah wajah Raja Gua Barong. Dia tampak serius, dan para punggawa sampai menelan ludah. Buku sejarah itu hanyalah satu versi, dan aku yakin ada kebohongan yang disembunyikan.”
Kecurigaan Prabu: Ayahnya Dibunuh, Bukan Mati Karena Sakit
Mbilung tercengang. “Kebohongan bagaimana, Sinuwun?” ia bertanya.
Togog mengisahkan pengakuan yang pernah didengar:
“Rama Prabu bukan orang yang mudah roboh oleh penyakit. Ia gagah perkasa. Pernah kudengar pujangga Gua Barong berkata bahwa ayahku mati terbunuh. Ketika kucek pujangga itu, mereka tak bisa menjelaskan. Karena malu dan marah, aku hukum mereka. Aku gantung mereka di alun-alun. Kini penyesalanku menggerogoti hati: apakah aku telah membunuh orang yang setia hanya karena menyingkap kebenaran?”
Suara Togog bergetar. Tuduhan ini bukan sekadar kata—ia menyiratkan dosa dan penyesalan yang dalam.
Mimpi yang Menggugah: Perintah Supranatural untuk Bicara Benar
Prabu Kirmira terdiam, lalu mengakui alasan lain mengapa ia ingin kebenaran itu diusut.
“Suatu malam aku bermimpi bertemu ayahku. Dalam mimpi itu ia meminta agar kebenaran diungkap. Jika benar ayahku dibunuh, maka dosa menghukum pujangga-pujangga itu akan menimpaku. Mungkin roh-roh mereka menggugat, dan kini mereka menuntut pembalasan. Karena itu aku panggil kalian, katakanlah yang sebenarnya, Togog.”
Togog menunduk sejenak, memikirkan dampak pernyataannya.
Ia tahu, jujur bukan tanpa risiko. Membuka tabir kematian seorang raja bisa mengguncang istana dan menyingkap luka lama yang belum sembuh.
(*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani