Gaya Hidup Hiburan Internasional Kab. Madiun Kota Madiun Magetan Nasional Ngawi Olahraga Pacitan Ponorogo

Lakon Wayang Guruhandaya 3, Kematian di Medan Perang yang Disembunyikan

Ki Damar • Rabu, 15 Oktober 2025 | 02:35 WIB
Ilustrasi tokoh wayang Togog
Ilustrasi tokoh wayang Togog

Cerita Lakon Wayang oleh Ki Damar*

Togog menghela napas panjang, menatap mata Prabu Kirmira sebelum mulai berbicara.

“Baiklah Sinuwun, hamba akan bercerita. Namun Paduka harus ikhlas dan tidak boleh marah ataupun dendam.”

Kata-kata itu membuat raja semakin curiga. Ia menyambar,

“Dari perkataanmu saja aku sudah tahu. Dari kata dendam itu berarti ayahku terbunuh. Benarkan?”

Togog menunduk, suaranya lirih. “Inggih, leres, Sinuwun.”

Prabu Kirmira tak terima. Suaranya meninggi. “Jangan kau bohongi aku lagi! Aku bukan raja yang bodoh, Gog, teruskan ceritamu!”

Togog memulai penuturannya dengan tenang namun berat.

“Sinuwun, Prabu Kala Pracona gugur berperang melawan Tetuka. Setelah itu, ada yang naik tahta bernama Prabu Anom Gatotkaca. Ayah Paduka, bersama patihnya Ditya Kala Heranya Sekipu Tantra, mati di tangan Gatotkaca. Padahal Gatotkaca saat itu baru berumur dua tahun.”

Prabu Kirmira terperangah, hampir sulit percaya.

“Hah? Jangan kau bercanda! Bagaimana mungkin anak berumur dua tahun bisa mengalahkan Rama Prabu beserta patihnya?”

Togog menjelaskan pelan.

“Hamba tak berbohong. Inilah sebab mengapa pujangga kerajaan memilih menulis sebaliknya, mereka menuliskan bahwa Prabu Kala Pracona wafat karena sakit. Mereka menutup-nutupi aib. Seorang raja besar tewas ditangan anak dua tahun. Itu memalukan bagi kehormatan kerajaan, maka sejarah ditulis lain.”

Balas Dendam vs Keadilan Berkelanjutan

Situasi berubah panas. Seorang punggawa bangkit, menuding para hadirin yang diam:

“Jika kalian sudah tahu kebenaran namun tetap tenang dan makan enak, maka kalian tak punya nurani. Mengapa tak membela kematian rajamu?”

Namun suara lain mencoba meredam amarah.

“Sudahlah, Sinuwun. Bila balas dendam terus dijalankan, kapan selesainya? Balas dendam tak pernah habis, ia melahirkan putaran dendam tanpa akhir.”

Di antara dua sikap itu terbentang dilema.

Menuntut pembalasan demi kehormatan raja atau menahan diri demi kestabilan negeri. Kebenaran yang terkuak oleh Togog bukan sekadar fakta sejarah, dia mengganggu tatanan moral dan politik yang selama ini dipertahankan oleh para penguasa.

(*/naz)

*Penulis Alumnus ISI Surakarta

Editor : Mizan Ahsani
#Gatotkaca #Lakon #wayang #prabu #togog