Lakon wayang Sumantri Lena oleh Ki Damar*
DI SEBUAH perairan Selat Hindi, suasana semula tenang berubah ketika Prabu Arjuna Sasra, raja Maespati, memanjakan para istrinya, Dewi Citrawati dan 800 garwa selir.
Demi melindungi keluarga istana dari gelombang, Arjuna Sasra bertiwikrama: ia berubah menjadi sosok raksasa yang menahan luapan laut, membendung Selat Hindi agar gelombang tidak menyeret istana.
Dampak Tak Terduga Berupa Banjir di Alengka
Tindakan itu, walau bertujuan melindungi istana Maespati, ternyata memberi dampak besar pada negeri tetangga.
Luapan air yang terhalang berubah arah dan menenggelamkan dataran rendah di negara Alengka. Rakyat terkena banjir, lahan rusak, dan kemarahan mulai memuncak di kalangan para punggawa Alengka.
Rahwana, dalam lakon ini bernama Dasamuka, merasa hak dan martabat Alengka diinjak-injak. Dia bangkit dengan amarah, siap menuntut pertanggungjawaban.
“Jika perlu, aku akan turun tangan sendiri!” tegas Dasamuka, sambil menghunus pedang mentawa.
Suasana menjadi tegang; para punggawa Alengka tak berani menentang kemarahan sang raja muda.
Saran Patih, Diplomasi atau Kekerasan?
Patih Prahasta menenangkan pihaknya. “Sabarlah, anak prabu. Mari kita coba sampaikan keluhan ini dengan cara baik terlebih dahulu. Mungkin raja Maespati tidak sadar akibat yang ditimbulkannya.”
Namun jiwa kedaulatan Dasamuka tak mudah dibujuk: baginya, membiarkan rakyat sengsara adalah aib bagi seorang pemimpin—dan pemimpin harus bertindak.
Ancaman Perang Menuju Titik Didih
Saat emosi memuncak, Dasamuka bersumpah akan menyerang pusat kenikmatan Maespati.
“Jika mereka meremehkan penderitaan rakyatku, maka aku akan membawa perang ke depan pintu istana!”
Dengan pedang mentawa di tangan, Dasamuka melesat menuju Maespati—sebuah langkah yang mengarah pada konflik besar jika tidak ada jalan damai. (*/den)
*Penulis lakon wayang Sumantri Lena alumnus ISI Surakarta
Editor : Deni Kurniawan