Lakon wayang Sumantri Lena oleh Ki Damar*
PRABU Dasamuka atau Rahwana berdiri di tepi selat dengan mata menyala-nyala. Ia menatap jauh ke arah Kerajaan Maespati, tempat Prabu Arjuna Sasrabahu bersenang-senang bersama 800 istrinya.
“Oh, ini rupanya raja yang disebut Sasrabahu—tangannya seribu, istrinya delapan ratus. Apakah tangan sebanyak itu hanya untuk memanjakan hawa nafsu?” ujar Rahwana sinis.
Ia menuding Arjuna Sasra telah diperbudak syahwat dan melupakan kewajiban sebagai raja. “Segila-gilanya aku terhadap wanita, aku tak akan seperti dirimu—raja yang tenggelam dalam nafsu dan lupa pada rakyatnya!”
Rencana Licik Rahwana
Kemarahan Rahwana membuat pikirannya gelap. Ia berencana memberikan pelajaran pada Arjuna Sasra dengan cara yang paling menyakitkan: menyerang pasukannya diam-diam.
“Aku tahu di mana para senopati dan punggawa Maespati berkumpul,” gumamnya. “Aku akan membantai mereka! Biar nanti ketika Arjuna Sasra kembali, ia hanya menemukan mayat pasukannya. Haha!”
Dengan pedang Mentawa di tangan, Rahwana terbang menuju pesanggrahan tempat para panglima Maespati beristirahat.
Dua Patih Maespati, Sumantri dan Surata
Sementara itu, di sisi lain pesanggrahan, Patih Sumantri—yang juga dikenal sebagai Patih Suwanda—sedang berjaga bersama Patih Surata. Maespati dikenal memiliki dua patih.
Patih dalam negeri, mengurus urusan istana dan keamanan pusat pemerintahan.
Patih luar negeri, yang bertugas mengurus keluhan rakyat serta menjaga stabilitas wilayah taklukan.
Keduanya adalah tangan kanan Arjuna Sasra, namun diam-diam memiliki pandangan yang berbeda soal kebijakan sang raja.
Percakapan Rahasia di Tengah Malam
Suasana malam itu sunyi. Di bawah cahaya rembulan, Surata mengajak Sumantri berbicara di tempat tersembunyi.
“Raden Sumantri,” ucap Surata perlahan, “aku ingin bicara hal penting. Ini bukan hal yang mudah, dan bukan bermaksud menentang sinuwun. Aku hanya menjaga nama baiknya.”
Sumantri menatap curiga. “Apakah ada sesuatu yang berbahaya, Patih Surata?”
“Tidak. Tapi... apakah benar segala tindakan dan keputusan raja kita ini sudah sesuai dengan kebenaran dan ajaran para leluhur?”
Pertanyaan itu menggantung di udara, menjadi awal dari konflik batin yang kelak mengubah nasib Sumantri dan seluruh negeri Maespati. (*/den)
*Penulis lakon wayang Sumantri Lena alumnus ISI Surakarta
Editor : Deni Kurniawan