Gaya Hidup Hiburan Internasional Kab. Madiun Kota Madiun Magetan Nasional Ngawi Olahraga Pacitan Ponorogo

Lakon Wayang Sumantri Lena 3: Saat Raja Berwajah 10 Mengamuk

Ki Damar • Jumat, 17 Oktober 2025 | 05:41 WIB
Ilustrasi lakon wayang Sumantri Lena.
Ilustrasi lakon wayang Sumantri Lena.

Lakon wayang Sumantri Lena oleh Ki Damar*

DI TEPI perkemahan pasukan Maespati, Patih Surata berbicara lirih kepada Raden Sumantri. Ia tampak resah oleh bisikan rakyat yang terdengar selama perjalanan menuju Selat Hindi.

“Aku mendengar rakyat berkata, sinuwun melupakan tugasnya sebagai raja setelah mendapatkan Dewi Citrawati,” ujar Surata.

“Aku takut kepercayaan rakyat akan luntur.”

Sumantri menatapnya tajam.

 “Mengapa tidak kau hukum orang yang berani menghina raja?”

“Sinuwun melarang kami bertindak sewenang-wenang,” jawab Surata lembut. “Beliau tak marah jika namanya diperolok. Tapi aku khawatir, ia terlalu asyik dengan para istri hingga lupa waktu dan kewajiban.”

Ucapan itu membuat Sumantri tersinggung. Ia merasa Surata telah melewati batas.

Ketegangan Dua Patih Maespati

“Apakah kau menyindirku, Surata? Karena aku tak mengingatkan rajaku?” bentak Sumantri.
“Tidak, Raden. Aku hanya ingin menjaga nama baik Maespati.”

Namun Sumantri tetap pada pendiriannya. “Prabu Arjuna Sasrabahu adalah titisan Hyang Wisnu. Ia tahu segalanya, bahkan sebelum peristiwa terjadi. Tenangkan pikiranmu, Surata. Bergabunglah dengan para raja, aku ingin bertapa menenangkan diri.”

Sumantri kemudian meninggalkan Surata dan berjalan menuju hulu sungai.

Ia bermeditasi di bawah pepohonan, berusaha menenangkan hatinya yang mulai gundah.

Surata yang Terabaikan

Surata hanya bisa menghela napas. Ia merasa percuma menasihati Sumantri, yang terlalu yakin akan kesaktian rajanya.

“Ah, betapa keras hatinya,” gumam Surata. “Aku hanya ingin menjaga kerajaan ini dari petaka.”

Dia duduk di tepi sungai, memandangi air yang mengalir pelan. Namun firasatnya benar: bahaya sudah mendekat.

Kedatangan Rahwana alias Dasamuka

Tiba-tiba langit menjadi gelap. Rahwana Dasamuka datang melayang dari arah selatan, tubuhnya menjulang tinggi dengan wajah 10 yang menyala murka.

“Dasar prajurit bodoh!” raungnya. “Rajamu bersenang-senang, dan kalian hanya berjaga-jaga di sini? Apa kalian tak malu menjadi pelayan raja yang diperbudak nafsu?”

Para prajurit Maespati gemetar ketakutan. Mereka belum menyadari bahwa amarah Rahwana akan membuka babak baru dalam peperangan antara Alengka dan Maespati — dan menjadi awal dari nasib tragis Sumantri dalam lakon wayang Sumantri Lena. (*/den)

*Penulis lakon wayang Sumantri Lena alumnus ISI Surakarta

Editor : Deni Kurniawan
#lena #Rahwana #dasamuka #Lakon wayang #Lakon #wayang #sumantri