Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Lakon Wayang Sumantri Lena 4: Ketika Pedang Mentawa Menembus Dada Seorang Patih

Ki Damar • Jumat, 17 Oktober 2025 | 05:48 WIB
Ilustrasi lakon wayang Sumantri Lena.
Ilustrasi lakon wayang Sumantri Lena.

Lakon wayang Sumantri Lena oleh Ki Damar*

TANPA peringatan, Rahwana Dasamuka menyerbu pesanggrahan tempat para prajurit Maespati berjaga. Para penjaga yang tersinggung dengan ejekan Rahwana langsung menyerang tanpa tahu siapa musuh yang mereka hadapi.

Namun, hanya dalam sekejap, pedang Mentawa berkilat dan menebas kepala mereka satu per satu.

“Ayo, semua maju bersama! Aku tak gentar menghadapi kalian, para telukan Maespati!” teriak Rahwana garang.

Para raja taklukan Maespati yang ada di tempat itu tak bisa menahan amarah. Mereka maju bersamaan. Tetapi pertempuran berlangsung singkat dan berdarah. Rahwana terlalu kuat bagi mereka.

Tewasnya Trustakethu

Dari kerumunan prajurit yang gugur, muncul seorang satria gagah: Trustakethu. Ia menantang Rahwana secara terbuka.

“Aku Trustakethu! Jika aku tak keliru, kau Dasamuka dari Alengka, bukan?”

“Haha! Benar, aku Rahwana Dasamuka. Terkenal juga rupanya namaku sampai ke telingamu!”

Namun keberanian Trustakethu berakhir tragis. Ia tewas digigit Rahwana, tubuhnya terhempas ke tanah tanpa nyawa. Darahnya membasahi bumi pesanggrahan.

Firasat Patih Surata

Sementara itu, di hulu sungai, Patih Surata merasakan firasat yang aneh. Air sungai berubah warna menjadi merah pekat. Ia menunduk, mencium air itu, dan wajahnya seketika pucat.

“Ini bukan tanah, ini darah… Ada apa di atas sana?” ucapnya panik. 

Ia segera berlari kembali ke pesanggrahan, hanya untuk mendapati pemandangan mengerikan: mayat berserakan, darah menggenang, dan hanya tersisa satu sosok berdiri gagah di tengahnya—Rahwana.

Pertarungan Surata vs Rahwana

“Masih ada satu yang hidup rupanya,” ujar Rahwana sambil menatap tajam. “Siapa kau?”

“Aku Patih Surata, pelindung Maespati!”

Rahwana tertawa keras.

“Ah, patihnya rupanya! Mari, buat aku terhibur! Tunjukkan kekuatanmu!”

Pertempuran dahsyat pun terjadi. Pedang beradu, tanah bergetar. Surata sempat membuat Rahwana terdesak, hingga sang raja Alengka memuji keberaniannya.

“Lumayan juga kekuatanmu, Surata. Tapi coba rasakan tajamnya pedang Mentawa ini!”

Seketika pedang Mentawa menembus dada Patih Surata. Ia roboh dan tewas di tempat. Rahwana berteriak keras, suaranya menggema ke seluruh hutan.

Sumantri Terbangun dari Tapanya

Jauh di tepi hutan, Raden Sumantri yang sedang bertapa tersentak mendengar suara itu. Ia membuka matanya perlahan.

“Siapa yang berani membuat onar di hutan ini?” gumamnya.

Dia belum tahu bahwa darah dan kehancuran sudah melanda pesanggrahan yang baru saja ia tinggalkan. Dan dari sinilah takdir tragis Sumantri di lakon wayang Sumantri Lena akan segera dimulai. (*/den)

*Penulis lakon wayang Sumantri Lena alumnus ISI Surakarta

Editor : Deni Kurniawan
#lena #Rahwana #dasamuka #Lakon wayang #Alengka #raja #maespati #patih #Lakon #wayang #sumantri