Lakon wayang Sumantri Lena oleh Ki Damar*
DENGAN kekuatan tapanya, Raden Sumantri melesat cepat menembus udara. Ia tiba di pesanggrahan yang telah porak-poranda. Bau darah dan debu bercampur jadi satu. Tubuhnya tegak berdiri, sorot matanya tajam.
“Hai, siapa kau yang berani menyerang pasukan kami?” seru Sumantri lantang.
Rahwana Dasamuka menoleh. Di hadapannya berdiri seorang satria tampan bertubuh tegap, tapi berwajah tenang.
“Rupanya masih ada satria yang hidup,” kata Rahwana. “Siapa kau?”
“Aku Sumantri, patih Maespati! Siapa pun kau, dasar pengecut, menyerang tanpa kehormatan!”
Rahwana mendengus, wajahnya menyala amarah. “Aku Rahwana dari Alengka! Kau bilang aku pengecut? Rajamu lebih pengecut! Dia memanjakan hawa nafsu, membiarkan istrinya beribu, sementara negaraku tenggelam karena ulahnya!”
Debat Tentang Kebenaran dan Dosa
Sumantri menghunus senjatanya. “Apapun alasannya, membunuh tetap dilarang! Kau telah menumpahkan darah tak berdosa!”
Rahwana tertawa keras.
“Kau bisa sebut aku raja terburuk, tapi kali ini aku berperang demi tanah airku! Aku melawan kedzaliman Arjuna Sasra, sang raja yang lupa diri!”
Ucapan itu belum selesai ketika Sumantri menghantam dada Rahwana dengan tenaga dalamnya. Tubuh raja Alengka terhempas ke tanah. Pertarungan pun dimulai.
Pertempuran yang Menggetarkan Langit
Dua satria besar saling menyerang dengan tenaga luar biasa. Tanah bergetar, pohon roboh, langit berwarna merah darah. Rahwana terdesak, namun tak mau menyerah.
Sumantri menekan dengan cepat, tubuhnya seperti bayangan angin. Tapi Rahwana membalas dengan kekuatan luar biasa, tubuhnya berubah menjadi raksasa dengan sepuluh wajah.
“Rasakan kekuatan Rahwana, raja Alengka!”
Pedang Mentawa berputar cepat, hampir mengenai leher Sumantri. Dalam satu kelengahan, Sumantri terpeleset dan jatuh.
Rahwana menubruk, menggigit lehernya dengan ganas. Darah muncrat membasahi tanah.
Gugurnya Sumantri yang Terlena
Sumantri berusaha melawan, namun tenaga perlahan menghilang. Darahnya terus mengalir dan terisap habis oleh Rahwana.
“Inilah akhirmu, satria Maespati,” kata Rahwana dingin.
Tubuh Sumantri terkulai. Langit mendadak hening. Seekor burung gagak terbang rendah melewati jasadnya. Di angkasa, terdengar suara lembut.
“Sumantri, engkau gugur bukan karena kalah, tapi karena menjaga kehormatan negeri dan rajamu.”
Rahwana menatap tubuh Sumantri yang tak bernyawa, lalu berbalik pergi. Tapi sejak hari itu, bayangan wajah Sumantri selalu menghantuinya — simbol bahwa angkara murka tak pernah benar-benar menang atas kesetiaan. (*/den)
*Penulis lakon wayang Sumantri Lena alumnus ISI Surakarta
Editor : Deni Kurniawan