Lakon wayang Indraprasta Seblak oleh Ki Damar*
NEGARA Indraprasta berdiri megah dan wingit. Keindahannya melampaui imajinasi manusia, penuh cahaya dan kemewahan yang diciptakan oleh Hyang Batara Indra. Istana itu sejatinya dibuat untuk kelak dihuni oleh para Pandawa, sebagai tandingan kemegahan Negara Astina.
Namun, saat istana itu selesai dibangun, Pandawa belum lahir. Karena itu, Batara Indra menitahkan kepada para jin agar menjaga dan menyembunyikan Indraprasta sampai tiba waktunya. Maka sejak saat itu, jin-jin penjelmaan Pandawa menempati istana tersebut. Mereka menyerupai wujud para Pandawa sejati.
Berabad-abad kemudian, saat kabar kelahiran Pandawa terdengar hingga ke alam jin, keresahan mulai tumbuh. Mereka tahu tugas menjaga istana akan segera usai.
Suatu hari, saat mendengar bahwa Pandawa akan diberi hutan Wanamarta. Para jin sadar bahwa masa kekuasaan mereka di Indraprasta akan berakhir.
Dalam suasana murung, Jin Yudistira, penguasa Indraprasta, termenung di singgasananya. Lalu datanglah Jin Dandang, penasihat yang licik namun pandai berkata manis.
Jin Dandang: “Bukankah Paduka para Jin Pandawa masih lebih layak memimpin negeri ini dibanding Pandawa manusia?”
Jin Yudistira: “Apa maksudmu, Jin Dandang? Mengapa kau berkata demikian?”
Jin Dandang: “Coba Paduka lihat kemegahan ini. Saat Paduka memerintah, seluruh jin tunduk dan hormat. Aku tak yakin Pandawa mampu menjaga kewingitan ini. Bila kelak mereka duduk di singgasana ini, apakah mereka akan adil? Apakah mereka takkan berebut kuasa seperti manusia lainnya?”
Jin Yudistira terdiam. Pandangannya menembus dinding istana, ke arah langit yang mulai berubah warna. Di lubuk hatinya, muncul keraguan.
Jin Yudistira: “Lalu, apa yang hendak kau sarankan, Jin Dandang?”
Jin Dandang: “Sembunyikanlah negeri ini, Paduka. Biarkan Pandawa membangun negerinya sendiri. Jangan serahkan Indraprasta. Negeri ini terlalu sakral untuk manusia yang belum tentu mengerti makna pengabdian.”
Angin malam berhembus pelan, menggoyangkan tirai emas di belakang singgasana. Dalam keheningan itu, batin Jin Yudistira berperang antara tugas dan keinginan.
Apakah ia akan menepati titah Batara Indra, atau mempertahankan kemegahan yang telah menjadi bagian dari dirinya selama berabad-abad? (*/den)
*Penulis lakon wayang Indraprasta Seblak alumnus ISI Surakarta
Editor : Deni Kurniawan