Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Lakon Wayang Indraprasta Seblak 4: Rakus dan Serakah Bukanlah Watak Pandawa

Ki Damar • Rabu, 22 Oktober 2025 | 03:10 WIB
Ilustrasi lakon wayang Indraprasta Seblak.
Ilustrasi lakon wayang Indraprasta Seblak.

Lakon wayang Indraprasta Seblak oleh Ki Damar*

BIMA: “Aku menebang bukan untuk merusak. Aku melakukannya demi membangun negeri—tempat manusia hidup bermasyarakat dengan damai.”

Jin Danduncana tertawa keras, suaranya menggema di hutan Wanamarta.

Jin Danduncana: “Haha! Dasar manusia, hanya pandai berkata manis. Hari ini kau bersumpah, besok kau ingkari. Manusia akan berjanji saat senang dan lupa ketika semua sudah terwujud.”

Bima menatap tajam: “Pandawa tidak akan mengingkari janji yang telah diugemi. Kami tidak akan menyeleweng dari dharma.”

Jin Danduncana: “Itu karena kalian belum merasakan nikmatnya kekuasaan! Setelah tahu manisnya jabatan, kalian akan haus pujian, lapar akan kuasa. Itulah watak manusia!”

Bima: “Tidak! Bukan watak Pandawa untuk rakus dan serakah.”

Jin Danduncana menuding keras:  “Buktinya di depan mata! Kau menebang tanpa pikir panjang. Bila tidak berhenti, akan kubuat jiwamu meninggalkan raga!”

Benturan dahsyat pun terjadi. Hutan bergetar. Bima dan Jin Danduncana saling serang. Tanah berdebu, angin berputar, pohon tumbang. Namun serangan Bima sia-sia—senjatanya tak mampu melukai makhluk halus.

Jin Danduncana mengejek: “Bagaimana, satria gagah? Lelahkah kau? Mana semangatmu yang tadi?”

Kabut tebal muncul, melilit tubuh Bima hingga lututnya melemah. Napasnya terengah. Dari kejauhan, Jin Suparta melihat pertempuran itu dan segera bergegas melapor kepada Jin Yudistira, sang penguasa Indraprasta.

Jin Suparta: “Kakanda Prabu! Danduncana melanggar perintah. Ia menyakiti manusia!”

Jin Yudistira geram: “Aku sudah memperingatkannya! Cepat, Suparta—bantulah Bima. Jangan biarkan ulah Danduncana mencemari titah para dewa.”

Jin Suparta: “Baik, Kakanda Prabu.”

Dengan cepat Jin Suparta turun ke bumi. Ia menemui Arjuna, yang saat itu sedang mempersiapkan alat perang di pinggir hutan.

Jin Suparta: “Arjuna, ambillah panah Wuluh Gading ini. Panah suci pemberian Batara Indra. Senjata ini hanya bisa digunakan untuk menundukkan makhluk jin yang melanggar dharma.”

Arjuna menunduk hormat: “Baik, Hyang Jin. Panah ini akan kupakai bukan untuk membunuh, tapi menaklukkan.”

Arjuna pun melangkah menuju hutan. Suara angin makin menderu, pepohonan bergetar. Pertempuran besar antara kekuatan manusia dan alam halus akan segera terjadi—menguji bukan hanya tenaga, tapi juga keteguhan hati dan kebenaran niat para Pandawa. (*/den)

*Penulis lakon wayang Indraprasta Seblak alumnus ISI Surakarta

Editor : Deni Kurniawan
#Lakon wayang #Pandawa #Indraprasta #Lakon #wayang #seblak