Kedzaliman Kurawa dan Pelajaran Tentang Keadilan
Jawa Pos Radar Madiun - Dalam kisah pewayangan Mahabharata, Kurawa dikenal sebagai simbol kedzaliman dan keserakahan.
Kebencian mereka terhadap Pandawa melahirkan perang besar Baratayudha, perang suci yang menjadi simbol keadilan.
Dalam pandangan Islam, setiap tindakan pasti memiliki balasan. Kisah ini mengingatkan bahwa siapa pun yang berbuat zalim akan menuai akibatnya.
Pandawa yang merupakan anak yatim kehilangan hak mereka atas takhta Astina karena tipu daya Sengkuni.
Saat diplomasi tak lagi bisa ditempuh, jalan perang dipilih untuk mempertahankan hak warisan yang sah.
Hal ini sejalan dengan sabda Rasulullah SAW dalam hadis riwayat Muslim No. 201:
“Jika seseorang hendak mengambil hartamu, jangan engkau berikan. Jika ia menyerangmu, balaslah. Jika terbunuh, engkau mati syahid. Jika membunuhnya, maka dia masuk neraka.”
Hadis ini menegaskan kewajiban menjaga amanah dan harta warisan. Dalam konteks pewayangan, Kurawa diibaratkan seperti kaum Quraisy yang menentang Nabi Muhammad SAW.
Akhir hidup mereka yang tragis menjadi gambaran nyata bahwa kedzaliman selalu berujung pada kehancuran.
Pandawa dan Kemuliaan Anak Yatim
Pandawa adalah anak yatim piatu yang tumbuh dalam kesabaran dan kasih seorang ibu, Dewi Kunti.
Sejak kecil, mereka hidup dalam kesulitan namun tetap berpegang pada iman dan keikhlasan.
Sebaliknya, Kurawa yang seharusnya menjadi pelindung justru berbuat sebaliknya, menyakiti dan menghinakan adik-adiknya.
Dalam ajaran Islam, menyakiti anak yatim adalah dosa besar.
Rasulullah SAW bersabda bahwa tangisan anak yatim dapat mengguncang ‘Arasy Allah, pertanda betapa besar kasih Tuhan kepada mereka.
Allah SWT juga berfirman dalam QS. Al-Kahfi ayat 59:
“Dan Kami telah membinasakan penduduk negeri itu tatkala mereka berbuat zalim, dan Kami tetapkan waktu tertentu bagi kebinasaan mereka.”
Ayat ini menggambarkan bahwa kebinasaan Kurawa dalam perang Baratayudha adalah bentuk keadilan Tuhan.
Sementara Pandawa, dengan kesabaran dan keikhlasan, menjadi simbol orang-orang beriman yang tetap teguh meski diuji.
Kesabaran Dewi Kunti dan keikhlasan Pandawa memberi pesan kuat bahwa Tuhan tidak pernah diam terhadap kedzaliman.
Kemenangan sejati bukanlah membalas dendam, tetapi menjaga hati tetap bersih dan menyerahkan keadilan kepada Allah SWT.
Nilai-Nilai Islam dalam Wayang: Warisan Budaya yang Sarat Hikmah
Pewayangan tidak sekadar kisah tentang perang dan kekuasaan, melainkan refleksi moral dan spiritual.
Kisah Pandawa dan Kurawa menyimpan pesan Islam yang universal: keadilan, kesabaran, dan larangan menzalimi anak yatim.
Melalui wayang, nilai-nilai Islam dihayati secara halus dalam budaya Jawa. Sebab, di balik tokoh dan peperangan, tersirat ajaran tauhid, tanggung jawab, dan kasih sayang antar sesama.
Kisah ini mengingatkan bahwa setiap perbuatan akan kembali pada pelakunya.
Sebagaimana firman Allah di bawah ini:
“Barang siapa berbuat baik seberat zarrah, maka dia akan melihat balasannya. Dan barang siapa berbuat jahat seberat zarrah, maka dia akan melihat balasannya pula.” (QS. Az-Zalzalah: 7–8).
(*/naz)
*Penulis alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani