Jawa Pos Radar Madiun - Dalam kisah Ramayana versi Jawa, terdapat satu lakon yang sarat makna spiritual, yakni Anoman dimakan Wilkataksini.
Ketika menjadi duta Prabu Ramawijaya, Anoman merasa bangga karena dipercaya membawa misi suci dari Pancawati untuk menyampaikan pesan kebenaran kepada kerajaan Alengka.
Namun di balik kebanggaannya, terselip rasa angkuh, keyakinan bahwa hanya dirinya yang paling pantas menjalankan tugas besar itu.
Saat melintasi wilayah kekuasaan Alengka, Anoman ditelan oleh Wilkataksini, makhluk raksasa penjaga negeri yang kuat dan menyeramkan.
Di dalam perut makhluk itu, Anoman berjuang keras untuk keluar, tetapi gagal.
Ia kemudian tersadar bahwa kesombongan telah menutupi kejernihan hatinya. Dalam keheningan itu, Anoman bertaubat dan merendahkan diri di hadapan Tuhan.
Barulah setelah tobatnya diterima, ia memperoleh kekuatan luar biasa dan berhasil keluar dari perut Wilkataksini.
Lakon ini menjadi simbol bahwa tobat dan kerendahan hati adalah kunci pembebasan dari kesulitan.
Kisah yang Sejalan dengan Nabi Yunus
Lakon ini memiliki kemiripan dengan kisah Nabi Yunus AS, yang juga diuji ketika ditelan oleh ikan Nun.
Nabi Yunus meninggalkan kaumnya dalam keadaan marah, dan di dalam perut ikan itu, ia sadar akan kekhilafannya. Ia berdoa dengan penuh penyesalan:
“Tidak ada Tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau. Sungguh, aku termasuk orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Anbiya: 87)
Doa Nabi Yunus menjadi lambang penyerahan diri sepenuhnya kepada Allah, sama seperti Anoman yang menemukan kesadaran spiritualnya setelah menundukkan ego dan kesombongan.
Pesan Moral: Kekuatan Lahir dari Kerendahan Hati
Kisah ini mengajarkan bahwa kehebatan sejati tidak lahir dari keangkuhan, melainkan dari kerendahan hati.
Anoman, meski digambarkan sebagai sosok sakti dan tak terkalahkan, tetap harus melewati ujian batin agar menjadi satria sejati yang bijaksana.
Begitu pula dalam kehidupan manusia: ketika kesombongan menguasai, pintu keberkahan tertutup.
Namun ketika kita mengakui kesalahan dan bertaubat dengan tulus, Tuhan membuka jalan keluar yang tak disangka.
Kisah “Anoman dimakan Wilkataksini” menjadi refleksi bahwa bahkan seorang pahlawan pun bisa terjebak dalam kesalahan.
Akan tetapi, yang membedakan manusia beriman adalah kemauannya untuk menyadari, menyesal, dan kembali kepada kebenaran.
(*/naz)
*Penulis alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani