Jawa Pos Radar Madiun - Sosok Bima dalam dunia pewayangan dikenal luas, dari anak-anak hingga orang tua mengenalnya sebagai satria gagah berani dan berhati teguh.
Ia adalah lambang kesetiaan, kejujuran, dan tekad yang kokoh dalam menuntut ilmu.
Salah satu lakon yang paling sarat makna spiritual adalah “Dewa Ruci”, ketika Bima menjalani laku spiritual mencari Tirta Pawitra Sari, atau air kehidupan.
Dalam kisah itu, Bima berguru kepada Resi Durna. Ia diperintah mencari air suci yang disebut memberi keabadian.
Namun dalam perjalanan batinnya, Bima justru menemukan makna sejati dari “kehidupan abadi”.
Bukan dalam bentuk fisik, melainkan kesadaran bahwa hanya Sang Pencipta yang Maha Hidup dan Kekal.
Tirta Pawitra bukanlah air ajaib, melainkan simbol pencerahan dan pemahaman spiritual. Pencarian air itu membawa Bima ke dasar Samudra Minangkalbu, yaitu samudra hati manusia.
Di sanalah ia bertemu Dewa Ruci, sosok kecil yang sejatinya adalah cerminan dirinya sendiri. Pesan moralnya jelas: kehidupan sejati ada dalam hati yang bersih dan tunduk pada Tuhan.
Nabi Khidir dan Ainul Hayat: Cermin dari Kisah yang Sama
Dalam Islam, kisah yang serupa juga ditemukan pada perjalanan Nabi Khidir Alaihis Salam.
Ia dikenal sebagai sosok misterius dan bijak yang disebut dalam Surah Al-Kahf.
Dalam berbagai riwayat, Nabi Khidir disebut mendapatkan Ainul Hayat (air kehidupan) setelah meneguknya ketika menolong pasukan Nabi Zulkarnain.
Air kehidupan dalam kisah Nabi Khidir bukan sekadar simbol umur panjang, tetapi tanda kebijaksanaan dan kedekatan spiritual dengan Allah SWT.
Ia adalah figur yang memahami rahasia takdir, hal-hal yang tak bisa dijangkau oleh logika manusia biasa.
Kisah Nabi Khidir ini memberikan makna yang sama seperti lakon Dewa Ruci: bahwa keabadian sejati bukan soal umur, tetapi kesadaran akan kehadiran Tuhan dalam setiap detak kehidupan.
Baca Juga: Situs Resmi Pemkab Madiun Bukan Diretas, Diskominfo Jelaskan Fakta Sebenarnya
Pesan Moral: Pencarian Spiritual Tak Pernah Usai
Baik Bima maupun Nabi Khidir sama-sama menempuh perjalanan batin yang berat demi menemukan kebenaran sejati.
Mereka berdua melambangkan manusia yang rela menembus batas duniawi demi menemukan makna hidup yang hakiki.
Keduanya mengajarkan bahwa puncak ilmu adalah mengenal diri dan mengenal Tuhan.
Sebab, hanya ketika hati suci dan tunduk, manusia bisa mencapai “air kehidupan”, yakni hidup dalam cahaya keimanan dan kebijaksanaan.
Bima dalam pewayangan dan Nabi Khidir dalam Islam adalah dua sosok dari dua dunia berbeda, namun sama-sama mengajarkan kesadaran spiritual universal.
Bahwa kebesaran bukan datang dari kekuatan fisik, melainkan dari penyerahan diri total kepada Sang Maha Hidup.
(*/naz)
*Penulis alumnus ISI surakarta
Editor : Mizan Ahsani