Lakon wayang Srikandi Krida oleh Ki Damar*
DI pelataran keraton, Begawan Bisma menyatukan para guru dan tokoh perang.
Ia meminta Durna dan Prabu Salya menjadi senopati pengapitnya.
Bisma ingin tiga orang yang tahu kebenaran menyaksikan jalannya perang: mereka adalah tombak ujung Baratayudha.
Meski sadar mereka berdiri di kubu yang salah, keadaan memaksa mereka menunaikan kewajiban.
Prabu Salya mengakui kebenaran itu.
Bagi raja Mandaraka, tugas mereka adalah menanggung beban berat: menjaga wajah kebenaran di tengah kekacauan, walau kelak sang pewaris akan menyesali.
Resi Durna menaruh berat pada sumpah guru.
Ia tidak ingin mengangkat tangan melawan muridnya. Seorang guru tidak tega menumpahkan darah murid.
Bisma, Durna, dan Salya bertukar kata tentang panggilan tugas versus kasih sayang keluarga.
Akhirnya mereka sepakat menunaikan kewajiban: maju sebagai senopati demi apa yang mereka anggap kebenaran, sekaligus menahan luka batin yang mendalam. (*/den)
*Penulis lakon wayang Srikandi Krida alumnus ISI Surakarta
Editor : Deni Kurniawan