Lakon wayang Srikandi Krida oleh Ki Damar*
DI medan Kurusetra, barisan Kurawa bergerak tegap. Duryodana bersorak, yakin kemenangan di depan mata.
Suara pujian untuk Bisma bergemuruh. Namun bagi Bisma pujian itu menjadi malu.
Ia termenung mempertanyakan nasibnya di medan perang dan rahasia suralaya.
Saat ia menarik gandewa, rasa welas asih menahan. Bisma tidak ingin membunuh cucu-cucunya.
Tetapi kenyataan perang tak kenal belas kasihan; ketika panah mengenai tubuhnya, ia sadar tak bisa terus berpangku tangan.
Dengan berat hati ia menembakkan panah yang memukul mundur prajurit lawan.
Satu panah Bisma menumbangkan banyak prajurit.
Arjuna yang melihat aksi itu terguncang. Bima bingung melihat adiknya gelisah.
Mereka menatap sang eyang dengan perasaan campur aduk: hormat, takut, dan rasa tak rela.
Perang telah mengubah hubungan keluarga menjadi ujian berat antara tugas dan cinta. (*/den)
*Penulis lakon wayang Srikandi Krida alumnus ISI Surakarta
Editor : Deni Kurniawan