Lakon Wayang oleh Ki Damar*
Peperangan antara negara Astina dan Pringgondani telah usai. Perang yang dikenal sebagai Perang Pamuksa itu menelan korban yang tidak sedikit.
Kedua raja dari masing-masing negara, Prabu Temboko dan Prabu Pandu, tewas bersama dalam pertempuran.
Duka menyelimuti kedua kerajaan yang kehilangan pemimpinnya. Peperangan yang dipicu oleh adu domba Suman, atau yang dikenal sebagai Sengkuni, tercatat kelam dalam sejarah Astina.
Demi jabatan dan pangkat, Suman rela mengadu domba negerinya dengan negara lain.
Kedua istri Prabu Pandu, yaitu Dewi Kunti dan Dewi Madrim, tenggelam dalam kesedihan yang mendalam. Anak-anak mereka yang masih kecil harus kehilangan sosok ayah yang dicintai.
“Kakang Mbok Kunti, maafkan aku,” ucap Dewi Madrim lirih.
“Aku istri yang tak mampu melayani dengan baik. Aku sering meminta hal di luar kesanggupan paduka raja. Bahkan dulu, ketika aku nyidam, aku meminta Kakang Prabu Pandu meminjam lembu Andini milik Pukulun Batara Guru untuk kutunggangi bersama. Betapa egoisnya aku ini. Merepotkan, hanya demi keinginanku sendiri. Padahal sinuwun sangat sibuk memikirkan rakyat, tapi karena aku, ia harus berpikir keras demi kesenanganku.”
Sang permaisuri, Dewi Kunti, merangkul Madrim dan menepuk punggungnya lembut.
“Sabar, adikku,” ujarnya penuh kasih.
“Ini semua bukan salahmu. Takdir sudah menuliskannya demikian. Kita sebagai istri hanya bisa berdoa bagi sinuwun.”
Dewi Kunti, wanita sabar dan taat beribadah, memang selalu percaya bahwa doa dan welas asih Tuhan akan menuntun setiap ujian
(*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani