Lakon Wayang oleh Ki Damar*
“Terima kasih telah menguatkanku, Kakang Mbok. Kau sungguh wanita berjiwa besar. Mana ada perempuan yang rela berbagi cinta, mengikhlaskan suaminya menikah lagi, dan tetap menganggap madunya sebagai adik sendiri. Hanya kau yang mampu melakukannya,” ucap Dewi Madrim lirih.
“Kakang Mbok, aku yakin anak-anakmu kelak akan meneruskan tahta, sebagaimana Kakang Prabu Pandu. Bolehkah aku menitipkan anak kembarku, Pinten dan Tangsen, padamu?”
“Kau hendak menitipkan anak-anakmu, Yayi Madrim? Mari kita bersama membesarkan mereka. Harapan dan perjuangan Sinuwun Pandu kini berada di pundak anak-anak kita,” jawab Dewi Kunti lembut.
Dewi Madrim mendekat dan menggenggam tangan Dewi Kunti.
“Kakang Mbok, aku akan menemani kepergian Kakang Prabu Pandu. Aku tak sanggup membiarkan beliau kesepian. Biarkan aku ikut pergi, menebus dosaku sebagai istri yang banyak salah.”
“Aduh, adikku,” seru Dewi Kunti menahan tangis.
“Jangan begitu. Anak-anakmu masih membutuhkan kasihmu. Mereka belum cukup merasakan cintamu. Bila kau pergi, siapa yang akan menjaga mereka?”
“Kakang Mbok,” jawab Dewi Madrim dengan suara parau, “aku percaya padamu. Kau wanita luhur yang tak akan membeda-bedakan anakku dan anakmu. Kau lebih tahu bagaimana mencintai anak-anak dibanding diriku.”
Tangisan Dewi Madrim pecah. Ia memohon restu kepada Dewi Kunti untuk menemani kepergian sang suami. Tak lama, Begawan Abiyasa mendatangi kedua menantunya.
“Hai anak-anakku,” ucap sang pandita Saptarshi itu lembut, “jangan sesali apa yang telah ditentukan. Madrim, apakah kau sudah memikirkan semua ini dengan hati yang jernih?”
(*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani