Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Bagian 4 Lakon Wayang Madrim Bela Pati: Rencana Gelap Patih Sengkuni

Ki Damar • Jumat, 7 November 2025 | 02:20 WIB
Ilustrasi tokoh wayang Dewi Madrim
Ilustrasi tokoh wayang Dewi Madrim

Lakon Wayang oleh Ki Damar*

Sengkuni yang turut menyaksikan upacara pembakaran jasad Prabu Pandu perlahan mendekati Kurupati dan mengajaknya menjauh dari keramaian.

“Paman, mengapa kita harus pergi ke tempat sepi seperti ini? Bagaimana bila ada yang tahu kita meninggalkan upacara sebelum selesai?” tanya Kurupati, putra sulung Destarata, dengan nada khawatir.

“Kau ini terlalu banyak cemas,” jawab Sengkuni santai. “Jangan hiraukan mereka. Yang harus kita pikirkan adalah rencana untuk masa depan.”

“Maksud Paman apa?”

Sengkuni menatap keponakannya dalam-dalam.

“Sekarang aku adalah patih di Astina. Mudah bagiku mengatur kebijakan. Apalagi raja Astina sudah surud ing kasidan jati, kini saatnya aku memikirkan kemuliaan dan tahta bagi kalian, para Kurawa.”

“Paman, hati-hati bila berbicara,” bisik Kurupati waswas. “Bila orang lain mendengar, ini bisa menjadi masalah besar. Lagipula, Paman tahu bahwa Prabu Pandu meninggalkan anak-anak Pandawa. Mereka tentu yang akan menjadi penerus tahta.”

Sengkuni tertawa kecil.

“Tahta bisa direbut, keponakanku. Ingatlah, ayahmu adalah putra sulung Begawan Wiyasa, pemegang tahta sebelumnya. Seharusnya, yang berhak menjadi raja adalah ayahmu, bukan Pandu.”

“Tapi Paman tahu, ayahku buta. Bagaimana mungkin seorang raja memiliki cacat seperti itu?”

“Kau ini tidak paham. Ayahmu tidak menjadi raja bukan karena fisiknya, melainkan karena ia tidak pandai mengambil hati sang begawan. Pandumu bisa naik tahta karena kepandaiannya berbicara dan menjilat. Zaman sekarang bukan kemampuan atau fisik yang menentukan, tapi koneksi dan kelicinan lidah.”

“Jadi maksud Paman, seharusnya tahta itu memang milik ayahku?” tanya Kurupati perlahan, mulai memahami arah pembicaraan pamannya.

(*/naz)

*Penulis Alumnus ISI Surakarta

Editor : Mizan Ahsani
#Lakon wayang #Lakon #wayang