Gaya Hidup Hiburan Internasional Kab. Madiun Kota Madiun Magetan Nasional Ngawi Olahraga Pacitan Ponorogo

Tarman Oh Tarman, Kisah Nyata antara Cinta dengan Kehormatan

Deni Kurniawan • Jumat, 7 November 2025 | 03:10 WIB
Ilustrasi cerpen berdasarkan kisah nyata sebuah pernikahan di Pacitan.
Ilustrasi cerpen berdasarkan kisah nyata sebuah pernikahan di Pacitan.

Cerpen oleh Deni Kurniawan*

TUAN dan nyonya sekalian, cerpen ini terilhami kisah nyata di Pacitan. Cerita cinta antara Tarman dan gadis pujaan hatinya yang berasal dari Kecamatan Bandar.

Pernikahan keduanya pada Oktober 2025 jadi viral. Sebab, mahar berupa cek Rp 3 miliar.

Kini, mahar tersebut jadi objek hukum. Polisi menduga Tarman melakukan tindakan pidana pemalsuan cek.

Tuan dan nyonya sekalian, cerpen ini merupakan karya fiktif. Namun, banyak fakta tersirat di dalam ceritanya.


Di meja makan rumah joglo itu, secangkir kopi hitam masih mengepulkan uap.

Tarman menatap kosong ke arah dinding kayu jati.

Di sana tergantung foto lamanya, mengenakan jas abu dan senyum yang dulu begitu yakin. Kini senyum itu terasa pahit.

“Wartawan sudah datang dua kali,” ujar sang istri kepada Tarman.

“Bilang saja saya sedang di kantor polisi,” jawabnya datar.

Dua minggu lalu, Tarman masih jadi bahan obrolan di warung kopi depan pasar Bandar. Pria 74 tahun itu, yang dulu dikenal dermawan, tiba-tiba menikahi gadis muda.

Berita itu viral karena mahar yang disebutnya saat ijab kabul adalah cek Rp 3 miliar. Cek tersebut berlogo Bank BCA.

Pernikahan mereka jadi tontonan. Mobil-mobil mewah datang, kamera ponsel menyorot. Tarman berdiri gagah di pelaminan.

“Cek ini simbol cinta saya,” katanya waktu itu sambil tersenyum di depan kamera.

Mempelai wanita kala itu hanya menunduk, tersenyum tipis. Mungkin, antara percaya dan tidak percaya.

Tiga minggu kemudian, kabar itu berubah getir. Cek yang jadi mahar berubah menjadi objek kasus hukum.

“Tidak ada saldo,” kata petugas Bank BCA yang dihubungi polisi.

Berita itu beredar seperti api di padang kering. Khalayak berspekulasi.

Ada yang bilang Tarman menipu demi gengsi. Ada pula yang bilang cinta membuatnya bodoh.

Yang lain percaya, ini hanya salah paham orang tua yang lupa realitas.

Ada juga hati yang memaknai kabar itu adalah tamparan keras di wajah yang membekas merah.

“Kenapa? Kenapa harus dengan cek palsu?” tanya sang istri.

Tarman menatap lantai, lama sekali. “Aku hanya ingin kamu bahagia,'' respons Tarman.

Sekarang, tepatnya Rabu malam itu, Tarman duduk di kursi penyidik Polres Pacitan. Di depannya, selembar kertas laporan dan beberapa botol air mineral.

“Bapak sadar, ini bisa dianggap pemalsuan dokumen?” tanya penyidik muda.
“Ini bukan untuk menipu. Itu cuma simbol mahar. Uangnya belum ada, tapi saya janji akan menggantinya. Saya hanya ingin pernikahan terhormat,” ucapnya dengan suara bergetar.

Penyidik menatapnya dengan tatapan yang tak bisa dibaca, antara iba dan heran.

Tiga setengah jam alias 210 menit berlalu. Tarman keluar dari ruang pemeriksaan dengan langkah goyah.

Tak ada yang menertawakan. Hanya ada sunyi dan derap kaki yang menjauhi lorong kantor polisi. (*)

*Penulis cerpen adalah redaktur Jawa Pos Radar Madiun

Editor : Deni Kurniawan
#Cek #pacitan #Tarman #kasus #cerpen #jawa pos #palsu #Deni Kurniawan #radar madiun #mahar Rp 3 miliar #kisah nyata #cek Rp 3 miliar