Ulasan Cerita Silat Bu Kek Siansu Karya Kho Ping Hoo
Jawa Pos Radar Madiun - Hutan Jeng Hoa San, atau yang dikenal sebagai Gunung Seribu Bunga, menjadi rumah bagi Sin Liong kecil selama dua tahun.
Di tempat sunyi itu, ia menemukan kedamaian yang tak pernah ia rasakan di dunia manusia.
Kesendirian yang semula lahir dari ketakutan, perlahan berubah menjadi sumber kekuatan dan ketenangan batin.
Pengalaman pahit yang ia alami membuatnya lebih peka terhadap alam.
Ia belajar mendengarkan bisikan angin, memahami tanda-tanda hujan, dan menatap bintang-bintang seolah berbicara pada mereka.
Tanpa disadari, tubuh mungilnya mulai menyerap energi dari matahari dan bulan.
Kebiasaannya mandi di bawah cahaya mentari pagi dan berendam dalam sinar bulan purnama memperkuat tulang-tulangnya, memperhalus pernapasan, dan menumbuhkan tenaga dalam.
Kelak semua itu menjadi dasar dari seluruh ilmu silatnya.
Sebagai anak seorang pedagang obat, Sin Liong telah memiliki sedikit pengetahuan tentang tumbuhan berkhasiat.
Ketika hidup seorang diri di hutan, ia memperdalam pengetahuan itu dengan caranya sendiri. Belajar dari rasa, aroma, dan efek tumbuhan pada tubuhnya.
Ia mencicipi daun-daunan, menghirup wangi akar, hingga mengenali racun dari getahnya.
Penciumannya menjadi setajam naluri binatang, mampu membedakan mana tumbuhan penyembuh dan mana yang mematikan hanya dari satu tarikan napas.
Dalam kesunyian hutan dan di bawah cahaya alam, Sin Liong kecil tumbuh menjadi bagian dari Gunung Seribu Bunga itu sendiri.
Ialah anak manusia yang perlahan menyatu dengan alam dan menapaki awal dari takdir seorang pendekar sakti. (fin/naz)
Editor : Mizan Ahsani