Ulasan Cerita Silat Bu Kek Siansu Karya Kho Ping Hoo
Jawa Pos Radar Madiun - Di tengah kerasnya dunia persilatan yang penuh intrik dan darah, seorang perampok bertubuh tinggi besar berjuluk Sin-Hek-Houw atau Macan Hitam Sakti datang.
Ia sengaja menemui Kwa Sin Liong, bocah ajaib yang kelak dikenal sebagai Bu Kek Siansu.
Pertemuan itu terjadi di lereng Pegunungan Jeng Hoa San atau Gunung Seribu Bunga, tempat Sin Liong hidup dalam pengasingan.
Dengan langkah terseok dan tubuh penuh luka, Sin-Hek-Houw memohon pertolongan. Lengannya terpapar racun pedang yang menembus tulang.
Meski dikenal tidak menyukai kekerasan, Sin Liong tetap menunjukkan belas kasihnya. Tanpa banyak bicara, ia merawat luka perampok itu dengan ketulusan luar biasa.
Ia membuka luka yang mulai mengering, mengeluarkan darah beracun, lalu menaburkan bubuk akar untuk menetralkan racun yang sudah menyebar.
Sin-Hek-Houw merintih menahan sakit. Namun di balik rasa perih itu, muncul kekaguman mendalam pada bocah kecil yang tenang, bijak, dan memiliki hati sejernih mata air.
Namun, kedatangannya bukan hanya untuk mencari pertolongan.
Ia membawa kabar yang mengguncang dunia kangouw, nama Kwa Sin Liong mulai dikenal luas.
Banyak tokoh dan partai besar mencarinya.
Ada yang ingin menjadikannya murid, ada pula yang berniat jahat untuk memanfaatkan atau bahkan menyingkirkannya.
Karena rasa terima kasih dan kekagumannya, Sin-Hek-Houw menawarkan perlindungan, mengajak Sin Liong bersembunyi dari ancaman yang semakin dekat.
Namun bocah itu menolak dengan tenang.
Bagi Sin Liong, Gunung Seribu Bunga bukan sekadar tempat tinggal, melainkan rumah yang telah memberinya ketenangan dan makna hidup.
Ia tak ingin meninggalkannya hanya karena ancaman dari dunia luar.
Dengan hati berat, Sin-Hek-Houw pun pergi meninggalkan gua tempat bocah itu tinggal.
Dalam langkah tertatih, ia sadar telah bertemu seseorang yang bukan manusia biasa. Bukan karena ilmunya, tapi karena kemurnian jiwanya.
Hari-hari berlalu. Nama Sin Liong makin menggema di dunia persilatan.
Ancaman datang semakin dekat, namun bocah itu tetap hidup dalam ketenangan, membantu siapa pun yang datang memohon pertolongan.
Seolah gejolak dunia kangouw tak mampu mengusik kedamaian hatinya. (fin/naz)
Editor : Mizan Ahsani